Namaste, Namaskara


Setiap ketemu di kantin saat sarapan , “Pat” atau Patrick – seorang spesialis robot bawah laut menegur dengan ucapan seperti diatas. Tentu bagi praktisi New Age atau beladiri impor Jepang, kata-kata ini sangat populer.

Lama-lama kepikiran juga, apa yang menyebabkan pria berkacamata, tinggal di South Perth ini menyapa saya dengan Namaste, apakah dia melihat aura dibelakang saya diikuti beberapa bayangan lain yang berkelebat.

Suatu pagi, pria keriting, pirang ini berhadapan satu meja dengan saya. Seperti layaknya bule maka pagi-pagi yang dilahap adalah semangkuk yoghurt asam, ditambah potongan buah segar. Masih minumnya orange juice yang dingin.

Pembuka kata adalah “kapan pulang?” – lalu dia menepuk jidadnya sambil “shit, no idea mate!” – ini bukan sumpah serapah kalau makan pagi yang diomongkan rada kurang tepat. Akhirnya arah konversasi ujungnya selalu sama, pekerjaan banyak, tetapi perusahaan kekurangan orang akibatnya pergantian crew sering tersendat. Dan penasaran saya terjawab. “Bukankan di India, kalau salam sebutannya Namaste?”- rupanya dia penasaran mengapa saya hanya menjawab singkat “morning! Pat”

Kring…. wrong answer….

Entah di Papua Niugini, Singapore, entah di Australia selalu saja orang menyangka saya dari India Hitam atau India Malaysia. Begitu saya bilang Indonesia, selalu diudak-udak pertanyaan, “tapi aselinya India toh..”

Kok maksa…

Lalu ingat beberapa tahun lalu berkendaraan ke Jawa dari Jakarta yang Jawa juga. Kali ini jalan yang saya sukai untuk memasuki Cirebon adalah masuk di Simpang Celeng, melewati Karangampel karena relatif sepi. Hari memang sudah menanjak siang, biasanya kami melepas lelah di rumah makan Jumbo di kota Cirebon. Waktu mahasiswa kerja praktek, pernah ditraktir makan disana, sekalipun akhirnya tidak jadi mantu orang Cirebon, namun kota ini menjadi seperti sebagian dari diri saya. Tapi kepada anak saya, saya hanya bilang “Gus Dur dan Amin Rais, baru bisa stop eker-ekeran kalau duduk bersama dan makan bersama diresto ini. Memang ada fotonya mereka makan disana.

Namun sebelum sampai ke Jumbo yang kondang dengan lumpia Cirebonnya, kok perempuan sebelah saya tanya itu es kelapa muda yang dijajakan dipinggir jalan kelihatanya segar sekali. Tentu saja saya “heu-euh-hin” – padahal selain bisa keluar adegan buka kelapa, kadang diteruskan adegan tempat kepala keluar (sensor). Tapi karena yang satu ini sepertinya ngebet banget, ditambah supaya jangan curiga mengapa saya kok sepertinya hapal banget dengan kawasan begituan. Maka saya mampir ke gubuk Kelapa Muda Plus.

Sambil menunggu kelapa dipecah-pecah, saya melihat ban dan keadaan kendaraan. Kok bisa-bisanya si mbak penjual kelapa mendekati pasangan saya sambil tanya “caranya mendapatkan bule seperti Tuan itu gimana sih mbak?” Niat banget deh…

Hatta, meledaklah tertawa mereka berdua ketika dijelaskan “itu orang Jawa, cuma kemampuan bahasa Jawanya dibawah setrip. Besarnya di Kertapati – Palembang. Saya sering dengar dia ngomong jawa dengan pembantu.. dijamin anyang-anyangen..”

Saya tidak merasa bahwa sedang dipergunjingkan hanya asyik diluar membuang penat. Sambil sesekali melihat kearah Pengilangan Balongan yang selalu bermasalah.

Ilmu kedokteran mestinya melakukan test hubungan antara katarak dengan minum kelapa muda.

Namun anak saya juga sering ditanya oleh teman-temannya apakah saya ini aseli Indo (bahkan mustinya campuran Tangsi Purworejo (yang rada kurang jelas asal usulnya dengan Tangsi Pathuk van Gunung Kidul). Akibatnya kalau didepan teman-teman Satrio saya sering berbicara dengan logat di India-India-kan dan ini berhasil mengecoh teman-teman anak saya mengira saya bukan orang sinih yah?

Nah repotnya tiba saat membayar uang sekolah, harus dilebihkan dari yang lain. Alasannya “kan orang tuanya orang luar, duitnya dollar…” – aduh biyung kalau sudah begini.

Advertisements

Mengubah Kalkulator


Seorang teman dulu pernah menasihati saya. “Kalau mau ke luar negeri, anggap sampeyan masih di tahun 80-an, supaya makan dan tidur bisa nyenyak...” Nasehat kedua, katanya, jangan bawa kalkulator kalau ke Mal atawa supermarket. Bisa sakit hati..

Ini nasehat apaan…?

Rupanya teman ini bermaksud memberitahu agar kalkulator otak diakali sehingga konversi Dollar ke rupiah menjadi satu seribu alias 1: 1000 (nol yang satu dipangkas). Saya tahu persis teman ini tidak ada hubungannya dengan seorang mengaku pakar yang bilang cara gampang keluar kemelut adalah ganti Presiden, dan cara gampang menyeribukan rupiah menjadi satu dollar dengan menjuali aset negara termasuk pulau-pulaunya.

Dengan dollar yang makin membubung sementara kita makin membumi. Rupanya ini salah satu kiat-mental cara agar kita kuat terkena gempa budaya dan biaya, berhubung misalnya Taxi dari Airport ke Hotel yang digenjot 50 dollar harusnya dianggap sebagai 50 ribu rupiah, tidur dihotel 100 dollar (melati punya) harus diubah menjadi seakan 100 ribu rupiah. Sejak mendengar nasehat teman spiritual saya, maka kendati agak anyang-anyangan, hidangan semacam hokhokben yang bernilai 15 dollar (mirip 150.000) hanya untuk penangsel makan siang, dianggap saja sebagai 15 ribu rupiah. Kompas yang ala mak tebalnya, 3000 rupiah, di Strali 2,5 dollar.

Njeplak sekali memang.

Rudi, pengecer majalah langganan saya anaknya masih sepantaran anak saya sekitar 25-an, ayah muda beranak satu yang gemar pakai kaos putih ini kalau bicara politik seperti layaknya punggawa negeri atas angin yang kalau belum dapat posisi “galaknya seperti ayam angrem”, namun begitu “mak jleg” duduk dikursi panas. Langsung lembut dan santun.

Kalau mencela negeri ini, seperti kemarin dia baru ambil pakansi satu bulan dan menghabiskan liburnya di BinaGraha sehingga tahu semua ulah partai politik dan akal-akalannya.

Rudi hapal betul bahwa dari semua majalah yang ada saya cuma memilih Tempo, Gatra sebab memang masih memiliki tebar pesona yang belum sirna, gaya bahasanya luar biasa lwes namun melilit usus. Satu saat saya beri dia T-Shirt, tulisannya norak sih Perth -West Australia lalu ada emblem angsa hitam melatari tulisan tersebut. Mudah-mudahan bukan dikira jualan mainan gelas tiup yang modelnya wajib yaitu bebek. Lalu saya berikan kepadanya dengan cara saya yang norak juga yaitu label harganya masih lekat.

“Boss, bener nih untuk saya?”

Sebetulnya (malu aku menjadi manusia Mimbar), saya ingin menjawab pertanyaannya “bos kok jalan-jalan pagi terus, apa nggak ada kerjaan, apa sudah pensiun…” – mungkin Rudi sendiri sudah lupa pernah memiliki pertanyaan itu. Habis sudah lama sekali sih.

“Lho masih ada harganya?, dua puluh lima dollar lagi..buseet.”katanya lagi. Lalu kaos didekapkan kedadanya pertanda amat sukacitanya. Tubuh yang mulai tumbuh subur dibagian perutnya nampak berguncang. Namun saat melihat label dibelakang kerah. Wajahnya sedikit kecewa namun sebentar terhapus senyumnya.

“Kok buatan Cina ya…”

Cukup sudah bidikan Kalashnikov saya. Sekarang tinggal serangan beruntun. “Berapa ratus koran kamu harus jual sehari, hanya untuk sebuah kaos yang buatannya kasar ini?. Itu (kaos) masih yang buatan Cina. Yang aselinya lagi belipat(tanpa r) harganya” Lalu berapa ratus koran lagi harus kamu jual untuk makan sehari-hari, kalau keuntunganmu hanya cepek dan nopek untuk setiap penjualan koran. Apalagi sekarang, koran yang sudah dipajang di lang-korannya, sudah tidak boleh dikembalikan kalau tidak laku.

Di Grogol, mau beli nasi goreng angkringan Bang-Kojiek (entah bagaimana kok dibaca Kojek), lima ribu, sudah pakai teh botol. Di sana 15 ribu baru nasi warteg Thailand dengan 3 jenis lauk. Kalau kamu ambil sayur sawi, itu termasuk satu lauk. Kamu ambil tempe, itu lauk kedua, ambil sambal, lauk ke tiga. Nah giliran daging, kamu harus merogoh kocek lagi….

Hidup dinegeri sendiri memang sepertinya cilaka-12, tapi setidaknya masih banyak lubangnya disana sini. Paling tidak ia bisa membuat perbandingan en tentunya mensyukuri hidup di alam yang masih terbilang murah dan meriah. Sampai sekarang saya belum pernah melihatnya menggunakan kaos hadiah tersebut.

Tuesday, June 27, 2006
http://mimbar2006.blogspot.com

Tulisan ke 752

Vertu di Ponsel mahal


Kalau tidak silap lihat majalah. Maka setiap 3 sampai 6 bulan mata dan telinga kita dijejali oleh model handphone yang terbaru sampai-sampai kita membeli handphone hanya karena “kepingin beli” atau karena ikutan teman. Bukan karena kebutuhan.

Tapi sebenarnya, ada tidak sih HP yang eksklusip tersebut (dan tentunya jangan bicara harga.) – terutama para snobis yang itdak ingin HP-nya disama-samain dengan temannya.

Para pengamat pasar dan tentunya perilakunya dengan jeli melihat bahwa ada kelompok manusia yang bisa dikerjain dengan menawarkan barang lain dari yang lain, atau kalau kata iklan kartu kredit “Kepada anda yang sangat spesial

Banyak HP menawarkan kemegahan science tetapi bagaimana yang menunjukkan cita rasa seni yang tinggi. Misalnya, masak menggembol HP sebesar batu-bata Cikarang, dibilang seni. Begitu kira-kira pemikiran mereka.

Jurang ini segera diisi bulan Oktober lalu oleh Frank Nuovo, dan lahirlah HP merek Vertu. Vertu berasal dari dari bahasa Latin “cantik dan langka”. Tidak tanggung-tanggung dia membuat HP yang presisinya mirip jam, namun tidak meninggalkan seni pembuatannya yang tinggi. Untuk itu ada 388 komponen kelas wahid yang dirakit dalam HP tersebut, 74 diantaranya hasil paten yang belum dimasalkan. Sebagai contoh. Untuk merancang tombol keypad saja ada 8 insinyur yang bekerja siang malam selama 4 tahun sampai tercipta design cita rasa namun soal presisi jangan ditanya.

Kalau anda kelebihan uang. Maka barang buatan tangan ini sangup dibuat dan dikirim dalam 10 minggu setelah pesanan. Sementara ini ada 3 model yang tersedia dengan harga yang bikin mendecak antara 14 ribu sampai 70 ribu dollar. Harap maklum yang kelas Signature Gold dimeriahkan dengan emas dan berlian sementara kelas Signature Platinum dikepyuri 0,25 karat berlian.

Sementara merek terbuat stainless steel, ditaksir harganya sekitar 6000 Euro. Oh ya sebelum lupa, Frank meledek bahwa HP dengan kamera adalah HP pasaran, sehingga dia wanti-wanti kepada insinyurnya jangan pernah memikirkan ada kamera didalamnya. Lalu apa kelebihannya kalau cuma bisa dipakai SMS dan Menilpun paling cuma dibungkus kulit berwarna hitam atau coklat seperti model yang baru dirilis Vertu Ascent Salah satu tombol kalau dipencet akan berhubungan dengan jaringan 34/7 atau Vertu Concierge, yang 24 jam melayani anda dari hotel reservasi, membeli tiket konser atau lokasi restoran ternama di 177 kota besar.

Rasanya kalau duit banyak sampai tidak tahu restoran terkenal di Paris, atau Melbourne sih terlalu mengada-ada. Namun itulah kenyataannya. Sekali tempo Alberto Torres VP dari Nokia Induk kandung Vertu pernah ditanyakan bagaimana pasar HP yang sepintas hanya pamer berlian.

Ia bilang. Lihat penjualan jam mewah. Hanya 1% pasarnya namun bisa menyedot 30% sampai 40% Volume revenue. Itu sekitar 8 miliar dollar setahun. Sementara Rolex dengan penjualannya sangat pesat hanya mampu satu juta jam per tahun. Padahal pangsa pasar HP volumenya 6 kali lebih besar daripada jam. Ini keuntungan yang mega explosive, katanya. “Kita bicara seperti mobil sport, mesin yang handal, namun jangan lupa kursi berlapis kulit yang empuk. Kombinasi keduanya untuk passport kenyamanan..”

Soal kamera, Torres memang menerima rekues dari beberapa kastamer bahwa mereka ingin HP yang ada kameranya. Dengan tidak mengurangi hormat kepada pelanggan Torres menjelaskan, biarlah kamera tetap kamera dan tilpun tetap tilpun, sebab kalau nanti setahun setelah kamera terpasang, ternyata pemakai melihat kamera yang lebih bagus lagi, maka kekecewaan mereka bisa-bisa ditimpakan kepada Vertu. Apalagi mereka tahu pembeli Vertu umumnya orang yang tidak mau didunia ini ada yang “nyamak-nyamakin.”

Pendapat beberapa pemakai, …

Handphone ini tidak memiliki Infra Red, semua informasi harus dikirim melalui SMS. Tidak memiliki kemampuan GPRS.

“Speakernya memang yahuud, salah satu andalan Nokia. Tapi kalau sudah lari ke handfree, ringkih betul…”

“Organizer nya bagus. Tapi kalau saya lihat prosesornya model lama…”

“Beratnya saja 200 gram, padahal merek lain hanya separuhnya…”

Kesimpulan yang pernah pakai. Membeli HP mahal ternyata hanya beli bodi dan materialnya. Bukan featuresnya.

Tuesday, April 11, 2006

Tulisan ke 751

Buka rekening Bank di Australia


Pilihan saya ke bank Commonwealth hanya karena bank Australia inilah yang pertama kali berkelebat didepan mata saat saya mengantar aplikasi Visa ke Kedubes Australia Kuningan dua tahun lalu. Betul juga kata iklan “kesan pertama begitu menggoda…”

Sebetulnya memiliki ATM BCA bagi saya sudah “PolPolan” – mau transfer dari HaPe sudah tidak dilatar belakangi ketakutan akan diakali orang jahat. Transfer melalui internet ya sudah dilakukan bertahun-tahun tanpa masalah. Bahkan gajipun ditransfer ke account “orang rumah” melalui Internet atau HP. Namun, ada permintaan halus dari pihak juragan agar saya membuka juga rekening di Australia.

Membawa cash dari Jakarta memang praktis asalkan ramalan biaya perjalanan akurat. Namun ada kejadian diluar skenario saat harus terkutang-kutang (beneran sampai pakai kaus kutang) lantaran tingal di Hotel sampai 10 hari padahal setiap travel hanya diijinkan tak lebih 16 kilogram sehingga baju cadangan saya minimaliskan. Untuk menjaga konsitensi sampai saya bikin spreadsheet barang bawaan saya sehingga lain waktu, nama-nama tersebut tinggal dicek. Lumayan hasilnya bagasi saya tidak pernah overload.

DILUAR SKENARIO

Ini yang kadang memicu episentrum gempa menguncang DAPUR sebab kalau saya ditempatkan hotel kelas melati ditapal batas kota dengan rate 100++ dollar perhari (tanpa nasi goreng dan telur dadar), berapa dollar harus saya keluarkan dimuka, sebelum akhirnya di re-imburse ke kantor yang biasanya baru di bayar 3 bulan kemudian. Lha sempat tiap bulan kejadian “standby” misalnya akibat Cyclone, bisa klepek-klepek.

Memang ada penginapan gratis milik perusahaan, namun seringnya diisi oleh para recruiter baru dari Phillipine dan India. [Intermezzo: Saya kalau sudah mendengar dua nama ini, apalagi yang belakangan rada kuatir sebab mereka ini tak kalah sebat dengan Brontok-Bro yang menempel di Mujair/Lohan. Dua-duanya cepat menyebar dan sangat territorial, kalau sudah mengelompok macam dodol, susah dipisah.] Mengandalkan kartu kredit tidak selalu praktis tentunya seperti taxi, bis kota, makan siang, koran, prepaid internet semua menggunakan cash.
Yang sering bikin sport-jantung manakala kartu digesek, keluar pesan “gagal” – yang bisa jadi akibat komunikasi sibuk, namun beberapa klerek, main gampang “ada kartu lain nggak?” kecuali kartu gaple. Dalam hati saya nggerundel, kartu lain apaan, emang elu pikir duit kagak ada serinya (bisa cetak sendiri).

Seperti saya katakan, ATM BCA digdaya untuk ambil cash, kepepetnya Citibank Visa juga bisa dimanfaatkan sambil singsot-singsot. Tapi begitu melihat ongkos tarikannya. Bisa langsung anyang-anyangan.

*****

Memasuki bank Commonwealth yang terletak dijalan St George Terrace ini terkesan kolonial dan sepi. Saya melihat dokumentasi pada 1931 terjadi demo dengan kaum buruh yang berakhirdengan bentrokan. Nama St George diambl dari nama Raja dan dikawasan ini ada gereja Kathedral tua yang bagian depannya masih dipertahankan keasliannya.

Ruang tunggu hanya ada lima kursi. Dipojok ada meja bundar ditempati 4 buah komputer bagi yang ingin loggon ke bank. Lucunya CPU dikerangkeng sehingga baik CD, Disket maupun lubang USB thumbdrive tidak bisa dimanfaatkan. Namun laser jet ada dimasing-masing komputer.

Zonder buang waktu untuk tengak-tinguk saya langsung masuk diantara antrian menunggu kode dipanggil. “Next.”

“Sorry to keep you waiting,” kata mbak Cara Smith dari Commonwealth Bank yang di luar dada kirinya tersemat lencana “Customer Assistant”

Nada suara itu mengingatkan saya akan sesuatu. Langsung tuwiiiiiing roh saya meloncat dari jalan St George Terrace No 106, Perth ke Jalan Medan Merdeka Timur No 6, ke suatu tempat di depan Gambir, saat saya harus bolak balik keluar masuk pelataran Pertamina yang berada di Gedung Pramuka.

Perempuan muda blonde ini tersenyum penuh “bisnis” – lalu memberi kode dengan gerakan kepalanya untuk memasuki sebuah kamar yang bertuliskan “Customer Studio” – coba kalau saya terbiasa akan mendefinisikan kata bahwa studio konotasinya adalah bikin potret, bisa-bisa saya protes, aku kesini bukan mau bikin KTP pakai dipotret potret di studio. Sebab lazimnya saya, kalau STUDIO = Potret, kalau diamankan=dicuri atau dimatikan, kalau oknum harus jahat. Atau belum-belum saya minta mbaknya menjelaskan “apa arti dan definisi Studio…”

Sambil menggerakkan ponytailnya ia bertanya “sudah punya point berapa…”

“what do you mean..” – suaraku terdengar fals, sekalipun ditelinga saya sendiri. Kalau ada tim penilai, acting saya teramat sukses untuk memperlihatkan wajah dungu.

Lantas ia mulai berceramah, membuka rekening di bank diperlukan minimal 125 point. Point-point ini didapat dari beberapa keterangan. Misalnya Birth Certificate ditaksir 70 point, Citizen Certificate 70point, Passport 70point, ID card (KTP) 25 point, SIM International 40 point.

Walah kok repot. Di Indonesia kan KTP sudah cukup. Disini apa harus kedarang-darang bawa Surat Nikah, Akte Kelahiran, dan etc etc. Lalu ada keterangan tambahan saat pembukaan pertama (ini bukan melahirkan lho), hanya dibatasi 800 dollar sekali ambil dalam 1 hari (tolok waktu adalah Sydney), kemudian setelah dievaluasi, dinaikkan menjadi 1000 dollar dan sampai 2000 dollar perhari. Masih ditanya “kalau ada” yaitu FTN singkatan dari File Tax Number. Ini NPWP-nya kita.

Proses lainnya serupa di Indonesia, bahkan sekalian dibukakan Internet Banking olehnya. Tidak ada biaya sama sekali, namun untuk lancarnya proses administrasi saya deposit 50 dollar agar lalu lintas bank kelihatan angkanya.

20 menit kemudian seluruh proses sudah tuntas tas…

Sepertinya keren, punya account dollar di luar negeri. Tapi isinya 50 dollar, itupun cuma untuk ongkos administrasi yang ditarik 5 dollar tiap bulan. Setiap penarikan di Bank akan kena kutipan 1 dollar, namun kalau di ATM lain ongkosnya 5 dollar. Kok kalau diraba-raba sama kerasnya. Maksudnya sama kecutnya, lha keluar uang semua.

Tulisan ke 750
27 Juni 2006

 

Red Dog, anjing pengelana dari Pilbara


Hari diambang sore di kota Karratha, 1550 km utara Perth. Dari Perth yang dingin, penerbangan sekitar satu setengah jam menggunakan Qantas. Tiba di Airport ternyata tidak ada antrian taxi. Kita harus menilpun perusahaan tersebut. Taxi yang kami pesan baru datang setengah jam kemudian sudah itu mintanya jam-jaman.

Pemandangan mulai berubah sebab daerahnya mulai mendekati equator, dibatasi oleh gurun pasir. Kiri kanan jalan datar kadang berbukit ditemani berbunga rumput kering, sementara pohonan hanya satu-dua. Bukit batu yang terkelupas menyeruakkan warna hitam pertanda dimakan oksidasi. Bulan Juni tahun 2006, lalu lintas lengang hanya nampak beberapa menit sekali. Kendaraan 4WD umumnya warna putih, dengan tiang bendera tinggi-tinggi dibagian depannya salah satu ciri kegiatan pertambangan mineral.

Setelah memasukkan barang ke hotel ala caravan (backpacker) ini, saya keluar kamar menikmati hari menjelang malam. Ada pemandangan berupa sunset yang indah. Namun urung untuk mengabadikannya. Terlalu sering pemotret melakukannya.

Diantara kesendirian dirembang malam, hanya debu yang menyapa saya. Itupun sesekali karena memang jalanan Searipple hanya dilintasi kendaraan pertambangan sesekali saja.

Lalu pikiran saya menyeruak, menapak tilas bagaimana seekor anjing lokal mampu melakukan pengembaraan disepinya daerah seluas 510.000 kilometer persegi tanpa pernah tersasar. Dan ini setting tahun 1973 an.

SILANGAN KELPIE DENGAN CATTLE DOG

Sudah banyak cerita kita dengar dari beberapa tempat dan negara bagaimana anjing menolong manusia, misal saja St Benard yang dimanfaatkan untuk menolong pendaki gunung yang terperosok disalju (dulu), di Australia dari ras Labrador konon memiliki penciuman tajam sehingga mendeteksi pada penumpang yang bawa apel, jeruk, kacang mete dari negara lain.

Bahkan kalau setiap kali ada anjing “napsu banget” menggonggong. Bisa jadi ia sedang mendeteksi bibit kanker yang sedang tumbuh berdenyut pada seseorang kafilah.

Anjing adalah sobat manusia.. kata sementara orang. Tapi percaya tidak percaya didekati saja kita sudah ancer-ancer melemparinya dengan batu, sandal atau sumpah serapah. Di beberapa daerah malah berlaku peraturan plesetan dari -Kirik Mara Kirik Mati-. Di Yogya, kirik ucul (lepas), kirik sengsu.

Sebuah foto koleksi keluarga memperlihatkan tahun 1954 ketika saya berusia 1 tahun duduk di sepeda roda tiga yang didapat dari ayah. Rambut saya di jambul persis temannya “Sapron” yang selalu mencari ibunya yang menurut sang ayah, ibunya berasal dari Tegal, tapi mencarinya di Bekasi. Dalam gambar, saya yang gemuk-inuk-inuk memandang kamera sambil leher saya dikalungi selampe penadah iler. Di belakang nampak seekor anjing kecoklatan berdiri. Lahir di Banten (tau sendiri), di miliu yang seperti saya katakan diatas, lantas memelihara anjing. Bapak mestinya berani tampil beda.

Namun di kawasan Pilbara – ini Jabotabeknya Australia Barat, pernah hidup seekor anjing yang tidak pernah suka memiliki tuan. Dan kegemarannya mengembara dari satu kota kekota lain, biasanya menetap sementara disana untuk satu minggu kemudian meneruskan pengembaraanya.

Pada 1971 dari persilangan dua anjing Australia jenis Kelpie dan Cattle Dog, lahirlah Tally Ho dengan bulu kemerahan disuatu kota kecil bernama Paraburdo. Jujur saja, saya bukan pengamat anjing. Cattle dog ini sebetulnya “Dingo” alias ajak Australia yang dijinakkan sehingga dari urusan merencah ternak, menjadi penjaga ternak.

Aufsdauer “daya tahan” tubuhnya dan kemampuan jelajah Tally mulai nampak ketika ia mampu berlarian dari Airport Paraburdoo ke rumahnya tanpa kelihatan letih layaknya anjing biasa, padahal jarak tempuh tak kurang 7 kilometer. lebih dahsyat lagi selera makannya menandas tuntas 1 kaleng besar makanan hanya dalam hitungan 9 detik.

Saat berusia 18 bulan, pemiliknya pindah dari Paraburdo ke Dampier.

Tally menempati trailer yang ditarik di belakang kendaraan tuannya. Ia harus di kerangkeng sebab sejak kecil ia paling tidak suka dirantai, Sang pemilik menuturkan saat sampai di Dampier, kecuali matanya, semua badannya kemerahan tertutup debu jalanan. Perjalanan darat sejauh itu dimana pada 1973 sebagian jalanan belum seluruhnya beraspal. Namun pemiliknya tidak menyadari bahwa Tally sedang merekam perjalanan. Membuat peta dalam benaknya dan merencanakan safari suatu hari kelak.

Di Dampier lantaran dekat laut, kalau sore, Tally diajak berolah raga sambil jalan-jalan cari udara segar dipinggiran laut. Sementara sang pemilik mencuci mata di pantai, mopi menyelinap diantara pengunjung dan menjadi tamu tak diundang pengunjung pantai yang berbekal sandwich, sosis, hamburger, atau steak. Napsu makannya yang besar seperti terpuaskan disini.

Merasa jalan hidupnya menjadi anjing lepasan Tally memutuskan tally-silaturahmi dengan tuan pertamanya. Kalau ditanya paling alasannya “makan dijatah Beh!.” Tally juga tahu bahwa dia harus cari makan sendiri. Ini tidak mudah lantaran dia terbiasa bangun tidur sudah ada suguhan nyam-nyam. Target operasi pertamanya adalah perumahan para bujangan pekerja Tambang Besi dan dijamin tidak bakal jadi RW.

Lambat laun Mopi juga belajar bahwa pekerja ini setiap pagi pergi kerja ketempat yang puluhan kilometer jauhnya. Lalu ia mulai mencari cara agar bisa liften di Bus Pekerja. Kok ya supir bis amat berkenan dengan Tally bahkan lama-kelamaan dia sudah “ngeset” tempat dibelakang supir sebagai teritorialnya.

Dasar reseh kalau yang berani mengambil tempat duduknya bakal tak berhenti dia menggugug.

Namun persahabatan tak berjalan lama, supir tewas dalam satu kecelakaan mobil. Tally yang tak tahu apa sedang terjadi mulai kebingungan mencari sahabatnya. Setiap bubar pabrik, dia menyeruak diantara kerumunan pekerja tambang yang pulang kerumah untuk mencari sang teman yang tidak pernah menyapanya lagi.

Supir bis kemudian diganti. Sayangnya ia kurang suka binatang. Tally diusir ketika hendak menumpang. Rupanya, justru sang penumpang bis yang memprotes kebijakan supir. Supir mengalah dan Tally lagi-lagi menjadi penumpang tetap dalam bis. Tally berhasil mempelajari cara “liften” alias membonceng para warga yang membawa kendaraan sendiri. Kalau didekatnya ada kendaraan membawa bocah, ia mulai mendekati sambil cari perhatian. Biasanya usahanya berhasil dan Tally diajak naik mobil mereka. Atau ia akan menunggu di lampu merah.

Dan herannya ia kenal persis satu persatu alamat mereka. Sehingga ia bisa meneruskan perjalannya dari satu tempat ke tempat lain yang puluhan sampai ratusan kilometer jauhnya. Juga seperti tahu bahwa disuatu tempat akan ada keramaian seperti bazaar, komidi putar. Dia pasti akan hadir disitu mengamati aktivitas keriaan sambil leyeh-leyeh tiduran di kolong meja atau dibawah pohon.

PENGALAMAN IBU RUSSEL

Pada Juni 1978, ibu Russel menjemput anak remajanya dari pesta disco di Walkabout Motel di Karratha. Di dinihari ia harus “stuur” sendiri. Saat keluar dari Motel, ia melihat Tally berbaring ditengah parkir. Karena tidak asing akan mahluk berbulu coklat ini ia mengajaknya naik mobil. Lalu Tally diantar pengemudi baik ini di pagi buta ke Poons Camp di Karratha tempat biasanya ia bermain disana. Lho kok Tally menolak turun. Ibu membawa Tally ke Wet Mess di Dampier 20km jauhnya dari tempat semula. Masih menolak juga. Wet Mess adalah bahasa orang Karratha kalau menunjuk tempak bar minum-minum sampai tempatnya basah kena muntah.

Baru setelah sampai di Mess para bujangan Hamersley-Iron, ia berkenan lengser. Dan sebagai tanda terimakasihnya ia berlarian mengekori mobil dari belakang sebelum menghilang.

Menjadi anjing jalanan, tak putus dari penganiayaan dari manusia yang sangat membenci anjing, namun juga tak terhindarkan perkelahian dengan anjing jantan lainnya.

PINDAH TUAN

Suatu malam Tally kedapatan terluka diruas jalan antara Dampier dan Karatha. Kali ini pekerja Tambang Garam yang kebetulan menemukannya tergeletak di jalan. Setelah dimandikan dan diberi pengobatan secukupnya lukanya sembuh, apalagi setelah diberi Coklat. Tally mendapatkan teman barunya dikelompok penambang garam. Disini mopi si “red-dog” berganti nama aneh menjadi “bluey” alias “si Biru”. Mungkin mirip kita memanggil bleki (hitam), kepada anjing coklat.

Bukan itu saja ia dijadikan anggota kehormatan persatuan buruh disana dan dibukakan sebuah rekening bank atas namanya. Si Merah yang sekarang si Biru juga cepat belajar bahwa kalau ia luka sehabis berkelahi mempertahankan teritorial atau lantaran musim kawin, tempat perawatan terbaik adalah Mes Penambang Garam. Ia gemar bermain dengan keluarga yang dipondokinya, gemar bermain dengan binatang peliharaan lain, tapi karena ‘anak jalanan”, cara bermainnyapun cenderung kasar dan menyakiti. Anak tuannya sering ditemani bermain. Misalnya menerbangkan pesawat terbang bermesin yang mahal tentunya. Tally ikut menikmati permainan dengan caranya sendiri, yaitu melompat sambil menangkap pesawat dan digulung-gulung disemak. Jelas saja sang pemilik pesawat “not happy”. Lebih konyol lagi, sudah numpang dia lebih galak daripada anjing peliharaan tuan rumah.

Kalau isengnya muncul, dia dengan enaknya menyetop mobil yang lewat, lalu duduk dibangku depan samping pak supir. Sambil minta jendela dibuka agar moncongnya bisa keluar menikmati segarnya angin. Kalau dirumah keluarga yang ditempatinya memiliki air conditioning, ia akan betah berlama-lama disitu. Cuma tidak sampai seminggu ia sudah minggat mencari pemandangan baru. Tak jarang ia harus bertarung melawan anjing lain dalam komplek tersebut, demi memperebutkan teritorial.

DI BEZOEK WARGA…

Si merah kedapatan luka parah dengan dua peluru dikakinya.

Berita cepat menyebar sehingga puluhan orang datang menjenguknya. Tak lupa memberikan saweran untuk ongkos pengobatan. Setelah dijumlah, antara biaya pengobatan, hotel, akomodasi para penggemar si Merah, jauh lebih mahal daripada jika mendatangkan seorang ahli bedah otak ke lokasi. Itupun belum termasuk biaya saweran 250 dollar yang dikumpulkan secara spontan oleh warga Pilbara.

Banyak tempat yang dijelajah anjing ini, mulai Roebourne, Poin Samson, Port Hedland, Broome bahkan sampai Perth (anda membayangkan 1550 kilometer perjalanan).

Lucunya pada saat ia menumpang sebuah mobil, tiba-tiba buru-buru melompat turun, dan sembunyi dalam semak sampai mobil meninggalkannya, ia baru keluar dari persembunyiannya. Dia jelas tidak membaca peraturan “Drink dont Drive” tapi instinknya mengatakan bisa “kacau” kalau nanti perjalanan diteruskan bersama supir mabuk.

Suatu kejadian sebuah mobil melewati limit kecepatan 80 km/jam sehingga distop Polantas. Ketika ia menjenguk red-dog dalam keadaan sakit dan perlu segera dibawa ke dokter, ia membebaskan sang pengemudi dari tindakan tilang.

ANTI TONG SAMPAH
Ini hebatnya, dia tidak pernah makan dari tong sampah. Ia selalu diberi milk-shakes, sosis, hamburger kalau ia berada di pertokoan atau sengaja mampir dan menginap dari rumah ke rumah. Kesukaan utamanya adalah T-bone steak. Kalau ia sudah melihat makanan ini, diganti makanan lainnya pun ditolak. “Hopo tumon” – ditempat kita dia sudah diberi supata “Asu gak tau diri kowe”

Anjing ini juga mencintai laut. Apa karena tahu bahwa kata anjing geladak adalah anjing yang mengembara dari geladak kapal satu ke lainnya. Kadang nampak dalam perahu para nelayan yang melaut. Salah satu kota wisatanya adalah Point Samson. Biasanya 6-7 minggu sekali ia datang kepada nelayan yang baik hati kepadanya. Mereka berkomentar “not a pretty dog but he certainly captured the heart of many.” Mana ada anjing geladak berdebu, bulunya botak-botak karena luka, berangasan lagi dibilang cantik. Tapi soal ia mampu mengambil hati penduduk itulah keistimewaannya.

INSPEKSI KONTES ANJING

Sekali waktu ada kontes anjing cantik, setia dan sopan. Tiba-tiba ia muncul, menghampiri meja juri, seperti meledek ia lalu mendatangi anjing peserta show yang sedang siap berlaga lalu kembali lagi ke meja juri sebelum meninggalkan mereka. Bayangkan bagaimana komentar pemilik anjing melihat penampilan si Tally.

Perkelahian demi perkelahian yang dihadapi disamping usia menua, membuat gerakan red-dog mulai terlihat lamban. Bekas dua peluru yang bersarang dikakinya membuat kakinya semakin kaku digerakkan. Warna merah bulunya mulai berubah putih.

Hari Sabtu 10 November 1979, diperkirakan si merah memakan umpan bercampur racun strychnine. Warga yang menemukannya ia tak berdaya di jalan segera menepikan mobilnya dan membawa sisakit ke rumah sakit terdekat. Sialnya, dokter sedang bepergian ke luar kota padahal dikota kecil Dampier, ia satu-satunya ahli. Melihat kondisinya yang parah menurut aturan setempat ia boleh dibebaskan dari siksaannya. Ia lalu dibawa ke kantor Polisi, biasa disitu ia akan ditembak. Tapi polisi yang bertugas piket tak sampai hati menembaknya lantaran iapun menyayangi mahluk jalanan ini.

Baru sehari kemudian dokter datang dan memberikan pengobatan seraya mengurung Tally agar mengambil istirahat sambil memulihkan kondisinya.

TETAP INGIN BEBAS SAAT AKHIR HAYATNYA

Tapi Tally yang selalu ingin bebas, sekalipun masih lemah dan bergerak secara tertatih serta meraba-raba karena mulai buta toh berhasil melepaskan diri dari ruang perawatan. Ini memang karakternya yang “warrior” – kadang ia datang berkunjung ke rumah dokter, sebetulnya karena menderita luka. Namun saat lukanya akan dibersihkan dan dijahit, Tally menunjukkan sikap tidak butuh pertolongan, bahkan memberikan cakaran dan jab-jabnya kepada sang penolong.

Berhasil membuktikan bahwa “ia sehat” – Nampaknya si Merah ia ingin menuju satu hotel, namun lagilagi terjungkal pingsan ditengah jalan. Rupanya muntah-muntah dan kejang-kejang tadi membawa kerusakan otaknya. Segala upaya dokter tidak membawa hasil, bahkan kesehatannya makin memburuk. Setelah koma selama 3 hari, pada Selasa 20 November 1979, dengan sedih dokter memberinya bius agar ia tidur selamanya.

Kalung dan peningnya disimpan oleh keluarga drH Rick Fenny, “tag” atau pening tersebut terbaca “Red Dog” – “Bluey” pada bagian muka dan pada bagian belakang tertulis “I ve been everywhere mate.”

Drh Fenny begitu kesemsem kepada Tally lantaran sewaktu ia praktek pertama kalinya di kota Dampier, anjing ini kerap menjadi pasiennya. Hanya herannya setiap kali datang dengan tuan yang berbeda. Ia baru ngeh bahwa Tally bukan milik siapa-siapa, namun rasa nurani warga Pilbara pada khususnya, atau Australia pada umumnya tergerak manakala melihat sebuah mahluk notabene “ciptaan maha pencipta” teraniaya oleh orang lain. Dalam hal yang lebih luas lagi terlatih kepekaan sosial akan penderitaan bangsa lain.

MONUMEN UNTUK SI “RED DOG”

Kematiannnya membawa kesedihan luar biasa bagi yang pernah mengenalnya. Teman-temannya yang merasa pernah bertemu disuatu kota lain, saat ia mengembara beramai-ramai mengumpulkan dana. Lalu uang yang berhasil dikumpulkan dibuatkan patung Red-Dog dari perunggu yang sedikit lebih besar daripada aselinya dan berdiri diatas 10 ton batu besi. Patung menggambarkan sikap tubuh Tally ketika berjalan melintasi sungai, semak menuju dengan penuh percaya diri.

Monumen tersebut berinskripsi:

RED DOG
The Pilbara Wanderer
Died November 21st 1979
Erected by many friend during his travel

Pematungnya, nyonya Forrest, saat pembukaan selubung pada 14 Desember 1980, didepan TV dan media lainnya mengatakan, saya bangga bisa mematungkannya sebagai penghargaan terhadap jasanya menghibur para pionir Australia menjadikan hidup mereka lebih gembira dengan kehadirannya diantara kita. Juga sebagai kenangan indah bahwa bangsa ini pernah menjadi mahluk sosial yang begitu akrab kendati dengan binatang, sebelum akhirnya melesat menjadi mahluk yang acuh tak acuh terhadap sesama.

Kalau anda satu saat sempat berkunjung ke Karratha, pihak pengelola Airport menjual Stikernya. Bahkan penggemar mobil OffRoad setempat mengambil nama Red Dog untuk mereka.

Karratha
Friday, June 7th, 2006

Penyesalan seorang Kalashnikov


Tahun 1968-an saya masih duduk di bangku SMP ketika suatu siang bapak yang masih aktip di Brimob, dibantu oom-oom Brimob, sebutan saya untuk menyebut anggota yunior, pada menggotong kotak seukuran peti mati berwarna hijau. Hanya kotak dengan kayu yang nampak uratnya lonjong-lonjong bak kayu jati ini memiliki paku yang berbeda, yaitu paku ini memiliki draad (ulir). Malamnya kotak dibuka, isinya beberapa buah senjata api laras panjang masih baru. Jelas bukan senjata kino ala karabijn (carbine), LE, mauser tapi khas dengan magazin yang melengkung.

Ini jenis AK-47, hanya dipakai oleh militer elit, seperti Brimob atau pasukan komandonya (Pelopor)”. Kata bapak.

Cuma mengapa bernama AK ia hanya bilang barangkali singkatan pabriknya. Di samping AK sebetulnya ada senjata otomatis lain yaitu RPG yang magazinnya bulat. Oh ya jaman itu pasukan Brigade Mobil memang diandalkan pemerintah sampai-sampai pengawalan jiwa seorang Presiden Soekarno diserahkan kepada pasukan ini.

Hanya setelah presiden berganti, nama Brimob seperti mulai memudar, bahkan pada tahun 1975-an Resimen ini diciutkan dengan alasan negara tidak memerlukan pasukan para-militer. Hanya sejarah berbicara lain tatkala Indonesia menginvasi ke TimTim.

Saya sangat bersemangat kebagian membersihkan senjata “elit” magazin melengkung ini – apalagi biasanya bapak memberi kesempatan saya untuk berlatih menggunakan senjata ini.

Keesokan harinya memang saya diajak ke lapangan tembak di kawasan Palembang. Berdua kami memang berniat uji coba senjata tersebut. Kegembiraan dan rasa ingin tahu bocah berubah menjadi kuping yang “hampir tuli” karena suara ledakannya, kedua bagian dada saya terasa sakit karena sentakan senjata, ketiga muka saya kecipratan gemuk berwarna merah darah yang memang dipakai untuk mengoles senjata. Cerita lain, boro-boro mau “bull-eyes”. Beberapa peluru yang dilepaskan, tak satupun mengenai sasaran.

Bapak yang biasa tepat menembak (ini memang kemampuan khusus para Brimob), mengatakan sulit untuk membidik dengan mengganakan senjata ini. Maklum baru pertama kali pakai. Sejak itu timbul gurauan, kalau menggunakan AK-47 bidik sasaran di kaki, nanti kan kepalanya yang tembus. Senapan serbu legendaris AK-47, yang dibuat oleh Michail Kalashnikov (dan saya selalu salah baca kalasinov) sekarang berusia 87 tahun. Seperti kita tahu AK-47 dipegang mulai gerilyawan yang berusaha membebaskan negerinya sampai ke terroris. Lho kok menciptakan senjata, asal masalnya gimana sih jendral?

Michail Kalashnikov pernah dirawat dirumah sakit akibat luka yang dideritanya ketika tentara Jerman meroket tank yang dikendarainya. Sejak keluar dari rumah sakit, ia seperti frustrasi melihat kekalahan demi kekalahan dialami tentara Merah Rusia melawan Jerman. Lalu dia melihat bahwa tentara Nazi selalu menang dimedan perang lantaran mereka memiliki senapan serbu yang otomatis. Dari frustrasi melawan Nazi, lahirlah senjata otomatis yang ia beri nama Avtomat Kalashnikov-47.

Angka 47 adalah tahun pembuatannya. Jadi selama enam tahun ia memendam frustrasinya atas kekalahanya melawan Nazi. Dan sampai sekarang diperkirakan 100 juta pucuk sudah dipakai oleh dunia, mulai yang dunia gelap maupun dunia terang.Bahkan ia memberikan lisensinya kepada negara komunis sekutunya yaitu Cina, Korea Utara, Jerman Timur dan Polandia.

Menurut perusahaan pembuatnya Izhmash di pegunungan Ural sana, ada lebih dari 1 triliun senjata sudah dicopy berdasarkan cetak biru AK-47. Memang ada saingannya yaitu M16 – mohon maaf ini tidak ada urusannya dengan Mikrolet Jakarta. M16 buatan Eugene Stoner ini memang lebih ramping dan canggih, namun bicara operasi di rawa, hujan lebat di hutan dan badai gurun, senjata bak lesu buyung.

Dengan AK-47 anda boleh berendam dirawa semalaman mengintip musuh. Begitu diceklik, peluru dijamin meletus. Itulah fungsi utama sebuah senpi, idaman setiap militer profesional.

Kalau mau contoh hidup, lihat di TV, ketika tentara Amerika dengan persenjataan lengkap, machine gun yang modern ternyata “mati kutu” ketika dipakai di gurun sampai-sampai diam-diam Pentagon harus beli AK-47 untuk mempersenjatai tentara Iraq baru,” katanya setengah promosi. Ia juga sangat membanggakan kesederhanaan bentuk AK-47 namun sangat terpercaya. Apalagi senjatanya kini sudah dimodifikasi dengan pelontar granat.

Kata-katanya ini dikutip oleh Nicolas Cage dalam filem Lord of War, sebagai senjata yang tetap hebat didalam lumpur atau didalam pasir, mudah digunakan, sekalipun oleh anak-anak

Jendral ini ternyata tidak langsung bisa menikmati profit apalagi loyalti lantaran dia masih dinegara Sovyet. Apalagi tahun 1991 ia gagal mengajukan hak patennya.

Beruntung, pak Jendral saat sovyet terpecah belah, ia leluasa menerima upah jerih payahnya, sehingga namanya sekarang dipakai untuk urusan payung, pisau lipat, jam dan Vodka. Vodka Kalashnikov dengan serta merta mengiklankan produknya sebagai satu-satu minuman pengubah dunia. Jadi hidupnya sekarang lebih dari berkecukupan. Apalagi akan diluncurkan mobil militer Jeep ala Rusia, dengan nama Kalashnikov, dari pembuatnya Lada.

Ada yang berubah dari Jendral yang masih kepala bagian perencanaan di negerinya ini. Setelah kesehatannya menurun, ia meminta badan Internasional agar memperketat aturan jual beli senjata. Dengan didukung 50 negara besar, akan keluar peraturan untuk tidak menjual senjata kepada negara-negara yang dianggap Internasional melanggar hak azasi manusia.

Saya bangga melihat ciptaan saya pada tahun 1941 dipakai oleh tentara yang profesional membela negara, tapi kalau melihat senjata tersebut dipakai membunuh orang tak berdaya, saya menjadi marah dan menyesal mengapa menciptakan senjata itu,” kata anak petani Kurya yang lahir pada 10 November 1919.

Sekalipun kadang saya menghibur diri dengan mengatakan, ciptaan saya 40 tahun itu dulunya kan dipakai untuk mempertahankan negaraku. Bukan tujuan berbuat aniaya… Demikian pesannya dalam kongres Amnesty International baru-baru ini.

Wednesday, June 21, 2006

Wet Mess – bukan kamar kecil


Beberapa kali berkunjung ke daerah “blusukan” di Australia saya menemukan beberapa istilah asing. Misalnya saat checkin ke sebuah hotel bernama Searipple di Karratha (1500 km Utara Perth, agak kebarat sedikit).

Hotel bermuatan 787 penghuni yang dikelola oleh Grup Fletwood ini cuma memakai nama “SeaRipple Village.” Pangsa yang disaring oleh hotel ini adalah para pekerja tambang. Mulai tambang bijih besi, tambang minyak bumi bahkan tambang garam.

Begitu anda masuk kamar yang tersedia adalah single bed, kulkas dan shower room. Dan semua dibangun dari caravan (kamar portable) milik Fletwoot Portable. Maklum kawasan ini sering kena Cyclone sehingga membangun hotel tinggi hanya memakan biaya. Mengingat yang datang ke daerah nan gersang ini umumnya pencari sesuap nasi, bukan turis yang kelebihan duit.

Alasan lain obyek wisata yang disajikan di kawasan Karratha yang sering disebut Pilbara group ini masih terbilang Wild Wild Outback, tentunya hanya turis yang gila akan petualangan yang tertarik mengunjunginya.

Melihat bentang alam yang dataran banjir, karena kalau pasang naik ketinggian permukaan laut naik setinggi 9 meter , batuan padas yang menyoklat kehitaman lantaran lapuk dimakasn udara, persis “taiyeng” dalam bahasa jawa – mungkin inilah awal kata Karratha (kalau yang menemukannya wong Kito.)

Sebetulnya para Aborijin yang memberi nama ini, yang artinya Kota yang bagus, dibuktikan dengan dibangunnya setasion kereta(sapi). Ini kita bicara era goldrush lho.

Sebelum membanting tubuh ke kasur, saya raih buku petunjuk (tepatnya lembaran fotocopy), disitu tertulis Meal Times misalnya Sarapan 04:30 sampai 07:30, makan siang 12:00-13:00, lalu makan malam 17:00-20:00 disini cara pelayanan adalah self service dimana para tamu mengambil makan sendiri. Bahkan mereka mengembalikan piring, gelas dan alat makan lainnya setelah selesai ke meja cuci piring.

Lalu saya baca tambahan keterangan yang mengatakan jadwal untuk ber “Wet Times” – Usut bin selidik ternyata “Wet Time” maksudnya “Bar Time”, yang hanya buka pada jam 16:30 sampai jam 22:00. Maklum orang minum bir dan alkohol umumnya sampai tumpah kemana-mana (wet).

Hampir saja saya bawa pakaian kotor ke bar.

Atau, ada ajakan menonton Musium Gaol. Lantaran malas buka kamus,sekalipun tahu bahwa kamus adalah jendela bahasa, tetap saja saya membuka tabir ilmu “wong Jowo” – maksudnya mungkin musium Olah Raga(ingat majalah Goal) – eh jebul, judul saja yang yang mirip, padahal artinya “pakunjaran” – alias penjara.

Belum lagi berita yang mengatakan para “digger” Asutralia akan pulang pada libur Natal.

Lha pertama membaca kata digger, ilustrasi di kepala yang muncul adalah permainan ketangkasan di PC pada era 80-an, menggambarkan kegiatan bawah tanah dimana seorang mahluk mencoba mengambil buah (bonus) sementara dikejar-kejar monster jahat.

Muncullah nama Nobbin dst…

Ternyata ini adalah istilah lain untuk menyebut “serdadu” di Australia. Hampir diterjemahkan sebagai pekerja tambang Je. (Pikir siy, dig=(menggali)) . Tetapi memang jaman perang dunia I dulu para tentara menggali parit-parit perlindungan sehingga muncullah istilah “digger.”

Salahnya pakai lambaran ilmu “cara jawane kiy” – kadang cocok, banyakan juga ngaco.
Mimbar Bambang Saputro