Sempat Pingsan di Guncang Gempa – featuring Ajitoro




Featuring : Ajitoro

Riwayat keluarga Ajitoro

Aku bersama istriku tiba-tiba berada dibawah gunung yang tinggi, gunung iru terdiri dari soil, sebagian disana-sini sudah longsor, aku hanya tertegun dan berkata dalam hatiku. Bagaimana jika gunung itu longsor semuanya. Ternyata mimpi si bunga tidur adalah perlambang akan datangnya mahakarya Sang Pencipta yang datang hanya beberapa jam setelah usai mimpiku. Disamping kepiluan aku bersyukur diberi “demo ” melihat mahakarya “ Sang Penciptaku”.

Saya beserta keluarga saat ini merasa bersyukur sekali, karena masih diberi kesempatan hidup yang kedua kalinya, sehingga masih bisa membalas email teman-teman semua. Hari Senin (29/5/06) malam didesa Mrisi, di desaku listrik baru menyala lagi.

Kejadiannya hari Sabtu pagi 27/5/06 saya tidak tahu tepatnya, jam enam kurang berapa. Saat itu saya dan kedua anak saya jam setengah lima sudah pada bangun.

Kemudian seperti biasa anak-anak saya dibikinkan teh dan tiduran di depan TV. Anakku yang kecil akhirnya tertidur. Istriku juga siap-siap untuk berangkat kerja sebagai seorang perawat di RS Bethesda- Yogyakarta. Kebetulan aku sedang liburan sebulan dari Australia. Waktu luang kupergunakan bersama anak dan mengantar istri ketempat kerja, karena memang pekerjaanku sebagai pekerja pengeboran adalah sebulan bekerja di Australia dan sebulan mengambil “break.” Sementara itu anakku yang besar ikut masak dengan pembantuku

Pingsan di kamar mandi

Aku hampir selesai mandi ketika tiba-tiba tubuhku seperti dilempar-lempar tenaga tak nampak. Aku tidak sadar apa yang terjadi kecuali mendengar suara bergemuruh yang keras sekali. Kucoba keluar kamar mandi namun usaha inipun ternyata tidak mudah lantaran badan seperti dikopyok kekanan kekiri.

Entah berapa saat aku seperti kehilangan kesadaran diri. Saat kesadaranku kembali aku ingat anakku yang kecil tidur di depan TV. Aku berteriak teriak supaya semua lari kehalaman belakang. Namun pemandangan kami sudah terbatas. Praktis kami semua tidak bisa melihat apa-apa , karena gudang di sebelah rumah saya yang baru selesai dibangun yang lebih tinggi dari rumah saya sudah runtuh total dan runtuhannya menimbulkan debu yang luar biasa, sehingga menutup pandangan. Celakanya sebagian runtuhanya mengarah kearah rumahku dan runtuhannya menghantam tembok halaman belakang dan dapur rumah.

Saat-saat kritis dan menegangkan, aku berhasil mengajak keluarga untuk lari kedepan, masih ada masalah pintu masih digembok dengan panik akhirnya aku bisa membuka pintu dan semua pada keluar. Aku baru sadar kalau aku cuma pakai kain sarung . Setelah diluar baru kami sadar baru saja mengalami gempa bumi. Aku tidak tahu berapa tepatnya menurut skala richter, katanya 5.9.

Kurang lebih seperempat jam dari kejadian itu aku beranikan diri untuk masuk rumah. Semua barang seperti almari seperti pindah tempat. Sementara isinya tumpah keluar. Bahkan ada lemari yang ambruk. Pesawat TV yang semula diatas meja sudah tergeletak di lantai untungnya tidak menjatuhi anakku terkecil yang saat itu sedang tertidur disamping TV.

Semua isi rumah berantakan dan barang barang dari keramik atau pecah-belah sebagian besar sudah berantakan luluh lantak. Saat itu masih terjadi gempa susulan . Saya keluar masuk rumah mengais barang-barang berharga yang masih bisa diselamatkan, termasuk kendaraan. Bilamana dirasakan ada gempa susulan cepat-cepat aku lari keluar rumah.

Isu Tsunami

Aku bernapas lega, paling tidak keluargaku selamat. Kerusakan materiil memang besar, namun belum terpikirkan olehku.

Kira-kira jam delapan tiba-tiba jalan didepan rumahku dipenuhi orang yang menyemut, mereka mendapat kabar bahwa ada tsunami dari arah selatan. Sehingga mereka menuju bukit-bukit kecil disekitar rumahku, yaitu Gunung Mojopahit dan Gunung Cilik. Perlu diketahui diantara yang mengungsi ada yang keadaan luka berdarah-darah, ada juga yang di gendong. Termasuk keluargaku yang rata-rata perempuan mereka panik.

Aku mencoba berusaha menenangkan istriku dan kedua pembantuku , sekarang tidak usah ikut panik, kita berdoa saja , pasrah, kalau memang harus mati mau kemana lagi. Inilah upaya terakhir menenangkan keluarga termasuk massa yang sudah panik. Usahaku berhasil meredam kepanikan. Akhirnya mereka agak tenang.

Setelah ditunggu kurang lebih satu jam mereka regudugan (berombongan) lagi kembali ke Selatan sekalipun banyak juga yang hanya duduk-duduk di jalan didepan rumahku karena mereka mau pulang rumahnya sudah rata dengan tanah dan mereka masih dicekam rasa takut dan panik yang luar biasa, termasuk saya beserta keluarga. Dan lagi mereka merasa aman tinggal di tengah sawah.

Di desa Mrisi saat itu yang meninggal tujuh orang dan di desa depan rumahku, cuma keletan (selisih) sawah yaitu desa Glondong ada enam orang. Mereka yang meninggal rata-rata keruntuhan rumah dan bahkan ada yang sulit diambil jenasahnya. Didesa Mrisi kurang lebih 90% rumah rusak, termasuk yang runtuh dan yang sudah tidak bisa didiami lagi (nyaris runtuh). Lantai rumahku pada retak-retak dibeberapa tempat, keramik dinding ngelothok semua, tembok depan retak-retak silang menyilang bahkan sampai bolong , dinding dalam retak-retak mendatar dan vertical.

Untuk saat ini kami tidur diteras depan, pintu tidak dikancing, ada yang didalam mobil. Sepanjang malam saya tidak pernah tidur, jaga-jaga kalau ada apa-apa. Untuk saat ini saya tidak bisa kemana-mana kalau keluar hanya untuk mencari kebutuhan sehari-hari.

Memang keadaan Bantul katanya paling parah. Yang baru kutahu, desa Kasongan sebagian besar rata dengan tanah. Jembatan Winongo di Kweni sisi-sinya agak ambles, juga jalanan banyak yang retak-retak. Kalau saat ini bisa melihat daerah yang rusak total , akan benar-benar bisa menangis.

Perlu diketahui saat ini bantuan banyak yang belum diterima sepenuhnya oleh mereka. Mereka benar-benar trauma dan ketakutan. Tinggal ditenda-tenda yang tidak memadai, tiap hari, terutama kalau malam hari selalu hujan. Semua radio di Yogya siarannya hanya monitor korban gempa.

Saat aku tulis email ini gempa juga masih terasa. Mungkin dari hari Sabtu kemarin sampai saat saya bikin tulisan ini sudah 20-30x gempa susulan. Saat ini rumah-rumah yang ambruk rata-rata belum dibersihkan, karena tidak ada tenaga, dan banyak yang ditinggal begitu saja untuk mengungsi ditempat lain yang dianggap lebih aman. Dengar-dengar korban gempa sudah 5000 orang lebih, dan akan terus bertambah lagi. Saya tidak tahu kapan gempa ini akan berhenti, serta trauma dan ketakutan yang diderita kami-kami ini bisa hilang. Aku hanya bisa berdoa.

Salamku,
Ajitoro.

Advertisements

Yogya atau Jogja atau Jogya ?


Akibat Lindu rusak Yogya sekalimatnya….

Kutipan Sambutan Kepala Stasiun TVRI Jogjakarta.

“Sebagai sebuah Stasiun Televisi kedua setelah TVRI Nasional di Jakarta, TVRI Jogja (jj) selalu melakukan inovasi dan mengasah kreatifitas agar brand image sebagai penyiaran publik tetap bisa diterima di masyarakat. Sebagai penyiaran publik sesuai amanah Undang-undang penyiaran nomor 32 tahun 2002, TVRI D.I. Yogyakarta (yy) berusaha mendekatkan …. dst”

Tulisan yang bikin kelilip mata saat ketidak konsistenan dari kata TVRI Jogjakarta (JJ) namun diakhir kalimat menjadi DI Yogyakarta (YY).

Saya sudah ngampet (menahan) lama begete untuk tidak membahas masalah ini, seperti “kulina” telinga kalau mendengar piyayi Jateng menyebut KiloGram menjadi Kilo-heraam dan kongres menjadi kongGGGGrezzz.

Mungkin yang baku ditelinga muantabs Man!

Namun ketika di Jakarta pasca Lindu terjadi pencemaran nama baik dan benar atas kota Yogya, jadi kepikiran juga. Tak kurang pengelola jalan tol menulis “PT Jasa Marga turut berduka cita atas gempabumi Jogyakarta (Jy)”

Ala Mak! Ini baru cara mengacak hurup secara acak-acakan.

Atau simak foto berita disalah satu koran. Para mahasiswa yang tergabung dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia atau yang disingkat KAMMI bersama dengan Badan Eksekutip Mahasiswa yang disingkat BEM melakukan penggalangan dana. Lalu sebuah spanduk terbuka AKSI SOSIAL PENGGALANGAN DANA PEDULI JOGYA (Jy) dan JATENG – dengan hurup kata Jogja yang mengiris hati. Dan seperti meledek di samping spanduk, terpampang kotak amal sholeh dengan tulisan “Galang Dana Peduli Jogjakarta (jj) dan Jateng” –

Ini sudah masuk bencana menulis kategori Ampun ya Ampuun.

Kalau dosen meneliti tulisan skripsi mereka kedapatan kata yang tidak konsisten, jangan-jangan malahan nyalahkan bapak dosennya “Killer Punyak! euy”

Lalu saat berjalan di jalan Malioboro, anda pasti mendapati Pusat Pertolongan Dagadu “Djokdja” dan ini (dj), kapokmu kapan….

Hal serupa terjadi pada kota di Riau.

Ibukota propinsi Riau. Ada yang menulis PAKANBARU (a) namun ada yang menyebut PekanBaru (e), dan nama ini dipakai secara bergantian dengan luwes dibeberapa penulisan.

Betapa kita tidak perdulinya kepada sebuah nama kota, bisa dibayangkan kalau suatu saat kita menyebut ibu kota Indonesia adalah Yakarta, atau kota di Amerika sebagai Niu York. Dan kota di Australia adalah Sidniy.

Atau kalau mau meluas dikit seperti sering saya ulas tanda lalu lintas, “belok kiri jalan terus…” Padahal maksudnya belok kiri langsung (belok), dan diterjemahkan ke bahasa Inggris “Turn Left Go Ahead” padahal kata yang baku adalah “Turn Left at anytime”

Tidak heran ibu Endang kasih komen, lha kalau mau belok kiri disuruh terus, kapan nyampenya.

Hal yang kecil, paling sebesar pasir, tapi dalam kaos kaki. Pedih juga kalau diampet…


Bekasi
5/29/2006. Gempa 27/5/06
Mimbar Bb. SAPUTRO
Text Msg: +62811806549

Membekali roh dengan kina


Kina jaman dulu (kerang)

Salah satu upacara kematian dalam suku kami, kepada mendiang dibekali Kina sebelum dikubur” demikian Exxon – seorang pemuda asal New Britain PNG menerangkan kepada saya.

Anak ini harusnya bertato di dahinya mirip tokoh Frankestein.

Tiba-tiba …Tuwiiiing, pikiran saya ke “coin” PNG yaitu Kina yang memang ada yang bolong melompong ditengahnya.

Lalu dengan bego dan sukses, saya bertanya apakah kina tadi ditaruh dikedua mata jenasah seperti adat kematian Yunani purba agar bisa membayar penambang Sampan yang menyeberangkannya dari fana ke alam akhirat. Rupanya sejak dulu di Yunani diajarkan bahwa menerima jasa seseorang harus ada imbalannya, sementara Kleting Kuning di tipi kita sontak darah tinggi ketika dimintai balas jasa penyeberangan.

Menurut kepercayaan setempat dengan membekali Kina, maka arwah bisa mampir dan berbelanja dalam perjalanan menuju alam lain.
****
Sebelum uang resmi yang disebut Kina PNG sekarang ini (1 kina=3000 idr) , ada kina yang kino (kuno) sebagai alat pembayaran yang syah. Bentuknya adalah kerang emas, yang hanya terdapat dilautan dalam. Bila kerang emas ini dikeringkan, maka menyerupai bulan-sabit. Lalu Exxon menunjukkan kina yang dimaksud adalah kerang (kina=kerang) sejenis kerang emas berbobot sekitar 300 gram dengan panjang 250 mm, jelas bukan kerang biasa.

Kina inilah yang dijadikan alat pembayaran. Kadang dipakai sebagai perhiasan pertanda status simbul sebuah keluarga. Untuk memakainya benda ini digantungkan dengan cara melubangi ujung-ujungnya lalu dikenakan seperti kalung, atau penghias pinggang. Sampai sekarang alat ini masih dipergunakan dipedalaman seperti pulau New Britain untuk alat transaksi. Sejak jaman berganti kerang emas bulan sabit mulai menghilang dan diganti dengan emas betulan. Sementara yang keluarga tidak mampu cukup puas dengan kuningan yang disepuh.

Rumah saya pernah dibongkar, gara-gara maling mau mengambil kina (kerang) untuk ditukar dengan Kina(kertas)” – dari cara bercerita memiliki kerang, ternyata nama Exxon bukan cuma gede di Cepu, tapi ada juga di New Britain – PNG, ia ternyata anak kepala suku terkemuka juga. Sebagai catatan geologist ini lulusan UPNG – singkatan dari University of Papua NiuGini. Untung UPNY(ogyakarta) almamater saya belum buka cabang di Garut.

Jadi tidak heran kalau upacara perkawinan mas kawinnya adalah Kina (beserta pemakainya). Untuk perbandingan, sebuah Kina yang besar, berkilau bisa ditukar seekor B-2 yang gendut implek-implek.

Pada tahun 1960-an kina dinilai sekitar 12 shilling. Tapi saat barang antik beginian mulai dibawa ke luar PNG oleh mereka dan diikuti pedagang antik lainnya, maka harganya meledak sehingga peburuan kerang emas-pun digalakkan besar-besaran sampai-sampai sekarang sulit mencari Kina yang kuno ini di daerah asalnya.

Wednesday, April 26, 2006http://mimbar2006.blogspot.com/

Uang kina yang sekarang menggantikan kina (kerang)

PNG Factor


Berapa lama sih seperampat jam itu?.
Kalau anda bangun pagi lalu duduk di Toilet maka 15 menit itu sebentar. Tapi kalau shower yang rencananya air hangat ternyata kita membuka keran air panas terlalu besar, maka “15 menit is hell”

Lantas, kalau anda membuka Yahoo, di PNG dan setelah 15 menit baru muncul tulisan Yahoo sementara jatah email anda sudah expire karena dihitung per 15 menit 15 kina (lima puluh riburupiah), atau 3000 rupiah per menit, maka itulah PNG Factor. Saya terpaksa harus log-out lalu mengulangi login disebuah hotel yang mengaku berbintang gemerlapan.

Di Singapore maupun Darwin, memang dikasih jatah 10 menit (free), namun kualitas pita lebarnya tergolong ciamik…bila dibanding PNG.

Di PNG, ada istilah PNG factor. Maksudnya jangan pernah berharap mengerjakan sesuatu pekerjaan secara efisien. Pasalnya keadaan cuaca, topologi, sikap “nyantai bouw” saling terkait di PNG sehingga agenda yang disiapkan matang-matang, menjadi berantakan karena ada gangguan yang diluar perhitungan.

Contoh, cuma ada pesawat dua kali seminggu dari Moresby ke Singaporeyaitu hari Senin dan Kamis. Namun gara-gara cuaca, bisa jadi yang semula harus berangkat pada hari Senin, lanaran ketinggalan pesawat sehingga harus menunggu hari berikutnya yaitu Kamis.

Pradeep, teman dari Mumbay, sudah bersolek sejadinya pada hari Senin. Jadi lemas ketika diberitahu bahwa penggantinya juga dari Mumbay, kopornya tersangkut entah dimana.

Sebetulnya saya sudah harus berada di tanah air pada 4 Mei lalu, namun sampai hari “H”, belum ada konformasi dari Perth sehingga mundur sampai tanggal 8 Mei, ternyata pada tanggal yang ditentukan pun, PNG-Factor masih berperan sampai akhirnya saya baru meninggalkan MORO pada hari Kamis 11 Mei 2006 dan meninggalkan Kota Port Moresby pada 15 Mei 2006.

Kebiasaan saya ketika akan melakukan travel adalah melakukan booking hotel, konfirmasi pesawat. Namun berdasarkan aturan main disini hal tersebut boleh dilimpahkan kepada dua orang Koordinator Lapangan. Istilahnya dalam pernikahan “sudah paket”. Kalaupun anda coba ambil bahu-jalan istilahnya mendahului mereka. Bakalan sia-sia lantaran kepentok birokrasi, berupa penantian atas clearance dari Korlap.

Namun, lagi-lagi saya terlambat 30 menit dari yang ditentukan, akibat cuaca. Di airstrip MORO saya harus puas dengan bermalam di mess yang disediakan oleh Oil Search setelah melakukan re-booking untuk keesokan harinya. Puas bermalam di Moro, dengan 2-3 kali kamar dibuka oleh orang (padahal sudah saya kunci dari dalam), yang salah kamar sampai yang ingin ganti seprai. Keesokan harinya saya melapor ke bagian tiket, dan lagi-lagi nama saya belum tercantum. Jadi apa artinya “Noworry brother, everything should be allright” ternyata bukan merupakan jaminan.

Padahal dua korlap saya dengar sendiri dalam percakapan sudah melakukan re-booked, bisa-bisanya nama saya tidak tercantum. Untung masih ada seat sehingga saya bisa ikutan terbawa pesawat DASH8 yang mengantarkan saya dari MORO ke Port Moresby dalam 1 jam 10 menit.

Sesampainya di Moresby, seperti halnya dikota lain, pihak penjemputan Hotel mengacung-acungkan pelangnya dan saya amat bersuka cita mencari nama saya disitu, untuk akhirnya kecewa sebab – lagi-lagi saya belum dibook.

Kukeluarkan HP dengan harapan teknologi PNG sudahberubah baik. Masih saja belum bisa terhubung. Secara manual saya paksa mengakses PNGB-Mobil phone. Gagal.

Lalu saya lirik Korlap saya seakan menanyakan “bagaimana tanggung jawabmu”. Dia seperti kehilangan akal, lalu mengeluarkan HP-nya dan berguman “bagarap (sial) tinggal 3 kina”. Alamat HP cuma bisa menerimasaja nih… Dalam hati saya, kalau cuma pameran “kere van Moresby” sudah khatam saya mengikutinya.

Sekarang aku ambil action. Setelah melakukan pengamatan dan olah TKP, Sebuah mobil dengan tulisan Hotel Lamana saya dekati, supirnya sedang berada diantara 2 gadis muda, lalu saya tanya apa Lamana punya tempat. Dia menyoba menghubungi kantornya (buktinya angkat tilpun dan tidak pernah mengucapkan kata), jawabannya fully book!

Matik aku, ayahku tidak tahu…[pethilan dangdut]

Alarm panic sudah mulai mengubah warna hijau menjadi kuning. Padahal sudah berada diluar terminal, dan jangan mengharap tilpun umum seperti layaknya kota besar didunia. Sampai akhirnya masuk pada jurusan nekad-nekadan yaitu menumpang shuttle milik Hotel Lamana, apapun jadinya, bagaimana nanti. Supir semula bingung, sudah dibilang penuh tapi masih nekad naik.

Di Lamana, tanpa basa-basi resepsionis menyambut dengan senyum lebar, kami masih punya banyak kamar, disini ada disco, ada casino tapi tak ada kolam renang. Berapa lama sampeyan akan tinggal disini?. Saya cari supir shuttle sudah ngacir entah kemana, padahal belum kuberi tips.

Gagal hari Kamis ke Singapore, berarti saya harus menunggu sampai hari Senin. Sebetulnya ada 3 hari untuk mencari yang aneh-aneh di Port Moresby, namun ada 26 buku petunjuk yang telah saya tandatangani, salah satunya tidak menggunakan alat transportasi publik.

Yo wis…. di kamar saja. Paling pintu diketuk room girl. Pertamaantar sabun, ketuk kedua antar selampe, ketuk tilunya mau rapihin bedcover…. Kok ya nggak sekalian mbakyu.. eh sister.

http://mimbar2006.blogspot.com/

Meditasi Lilin bikin PeDe


Ambil sebatang lilin, dengan cagaknya. Nyalakan lilin setinggi mata,lalu pelototi dengan rasa. Rasakan kehangatan lilin memasuki sukma. Bilamana lilin ini berkobar kekiri dan kekanan padahal tiada angin yang meniupnya, bisa jadi jiwa anda sedang gundah, emosi anda sedang tidak stabil. Kelak dengan latihan teratur, saat mata anda tidak perih memandang lilin, nyala lilin bisa anda ajak bicara untuk tetap tegak.

Yang ngomong ini bukan sembarangan, Suryani adalah Guru BesarUniversitas Udayana Bali. Usia 14 tahun sudah mulai berlatih meditasi, sekalipun mengaku bukan orang yang dianugerahi kemampuan niskala (taktampak mata) namun berkat kegigihannya berlatih, ia bisa bermeditasi sampai kesurupan.

Lho kok kesurupan?. Apa nggak salah dengar nih?

Sudah banyak anak sekolah kesurupan masal, menari, berceloteh pakai bahasa asing yang sebelumnya mereka tidak pahami, padahal yang banyak cuma gegaokan saja. Apa belum cukup bikin orangyak ubeng….(pusiiing)

Profesor ini punya istilah bahwa kesurupan itu bukan berarti wadag kita diatur secara remote oleh anasir lain. Kesurupan adalah unjuk-kekuatan (tenaga-dalam) kita yang keluar mengendalikan bawah sadar. Affandi kalau sudah melukis, sampai telanjang, lempar cat,coreng moreng sampai pagi. Atau seorang pengarang “kesurupan” mengetik dan mengetik sampai dinihari, tanpa merasa lelah. Suryani pula yangmengatakan bahwa Bung Karno kalau pidato sampai kesurupan. Bisa berjam-jam tanpa merasa lelah, tanpa minum, terlebih lagi bisa berbicara melompat kedepan dari masanya.

Layaknya orang Bali, kata kesurupan bukanlah sesuatu yang menakutkan,apalagi dikaitkan dengan jin. Pesannya, perlakukan kesurupan seperti penyakit menular. Begitu ada yang menunjukkan gejala fenomena tersebut, segera isolasikan si”pasien” sebelum terjadi massal.

*****

Percobaan profesor ini bermula dari satu Topik di tahun 2000-an “bisakah seseorang mempengaruhi fisik, emosi, psikis atau gampangnya proses kognitif orang lain tanpa kata-kata, melainkan dengan “transfer” energi. Jadi tidak pakai sugesti, kultus, atau pasien”boongan” yang datang pura-pura lumpuh, disembur air putih atau air ludah langsung lari bak banteng ketaton.

Kepada koleganya para Guru besar, dari negara realita, seperti GuruBesar Hoyt Edge dari Amerika dan guru besar Bob Morris dari Inggris. Ibu Profesor ini mula-mula mengusulkan meditasi konvensional seperti yang ia biasa lakukan. Murah meriah.

Celakanya usul tersebut ditolak mentah-mentah oleh dua dari gurubesar. Alasannya subyektip. Bisa jadi subyek penelitian cuma berpura-pura menerima transfer energi, padahal cuma sinetron lantaran ketiadaan media pengukurnya…

Maka pada tahun 2000-an Suryani mengenalkan metode pakai media Lilin.

Repotnya baru 1 menit peserta meditasi mengeluh matanya perih, yang lain mual-mual, tidak bisa konsentrasi. Oh ya, peserta dipilih orang yang seumur-umur belum pernah kenalan dengan namanya meditasi, maksudnya diharapkan ada debaran jantung, rasa was-was, takut salah, kepingin mencoba, atau malahan bingung sehingga getarannya bisa mempengaruhi lincahnya nyala lilin. Lalu “diakali” dengan menggeruduksebuah lilin dipelototi oleh 15 orang. Hasilnya responden mengaku bisa mengalami relaksasi.

Setelah 3 bulan berlatih, baru ketahuan “slag”nya meditasi ini. Jadi tidak ada mantera atau jopa-japu telek asu. Semua hanya kemauan. Bermesu diri melihat lilin dan coba berdialog.

Kenapa justru Lilin Kecil turun ke mata lalu ke hati?

Kenyataan bahwa anggota tubuh yang paling “jendela” jiwa adalah mata. Anda bisa lihat seseorang senyum namun tarikan matanya memperlihatkan ia membenci anda. Atau mulutnya seperti judes tetapi matanya berkata lain.

“Untuk bisa berlatih menggunakan mata, cara yang paling mudah adalah lilin. Lilin bisa memonitor apa yang terjadi pada diri kita. Setiap orang punya energi dan itu akan mempengaruhi sekitar. Sekarang, bisatidak kita mengontrol nyala lilin. Kalau bisa mengontrol nyala lilin tetap tegak dan menyala, Anda akan sanggup mengontrol apa yang ada diluar,” ujarnya.

Lilin, kata Suryani, bisa dijadikan sarana latihan seperti lawan bicara. Benda itu akan menjadi ukuran ketenangan dan konsentrasi seseorang. Dengan mengusahakan nyala lilin tetap diam, berarti orang itu sudah sanggup memunculkan kekuatan dirinya. Diakui, lilin memang banyak digunakan orang untuk berdoa, upacara, atau sembahyang. Tetapi meditasi lilin hal yang berbeda.

“Saya gunakan lilin sebagai media untuk mengontrol diri dan menggunakan mata. Meditasi ini bukan menjadikan lilin sebagai objek, tetapi mampukah mata kita ini dimanfaatkan. Saya ingin melatih orang melihat lilin, tapi bukan mata ini yang melihat lilin, namun rasa yang melihat lilin.
Jadi esensinya bagaimana membangkitkan kemampuanspiritual seseorang,” tuturnya.

Suryani menambahkan, banyak orang berlatih dengan lilin, tetapi dia tidak memanfaatkan kemampuan dirinya membaca pikiran. Jadi sebaiknya jangan berpikiran lilin sebagai objek, tetapi lilin sebagai alat bantu untuk menggunakan mata. Dari mata itu, seseorang bisa menyentuh hati yang paling dalam dari lawan bicara.

“Dengan mengontrol nyala lilin tegak, kita tidak perlu lagi mencari orang lain untuk menilai Anda. Oleh karena itu, selain melatih penggunaan mata, saya ingin melatih orang untuk belajar dari pengalaman. Dari apa yang dilihat, Anda akan tahu apa yang harus dilakukan. Mungkin Anda sering tidak percaya diri lalu bertanya kepada orang,” tambahnya.

Ukuran Berhasil

Suryani mengaku kerap mendapat banyak pertanyaan, kapan saatnya dianggap sudah menguasai meditasi lilin. Pertanyaan itu tidak bisa dijawabnya, karena memang tidak pernah ada jawaban pasti. Bahkan ia tanpa ragu memastikan orang tidak akan pernah benar-benar berhasil menguasainya. Paling tidak, ukuran sederhana yang bisa dipakai adalah membuat nyala lilin tegak.

Kalau mengikuti dunia spiritual, kita tidak akan pernah berhasil dan selesai,” katanya sambil tersenyum.

Bonusnya. Seorang yang tadinya menunduk kalau bicara, kini nampak garang, ada yang mengaku lebih mudah merasakan emosi orang lain. Pokoknya banyak deh, efek samping (bagus) dari latihan ini.

Kalau mau lebih lanjut lagi, anda bisa menyoba mengobati orang dengan pandangan mata. Manzsthab Man!

Jadi tunggu saja Roadshow profesor Suryani ini ke kota anda. Atau dapatkan bukunya “Meditasi Lilin keluaran Yayasan Obor”

Sunday, May 21, 2006
http://mimbar2006.blogspot.com

Kopor Pengeboran Tak Pernah dikunci



Kadang dalam satu pertemuan safety mingguan di kamp pengeboran, kami bermain “tebak-tebakan” – bagi “crew” yang bisa menjawab hadiahnya bervariasi bisa sebatang coklat, topi sponsor dari perusahaan, tally book, kadangT-shirt.

Lama-lama mereka (panitia) kehabisan pertanyaan padahal masih ada beberapa hadiah lagi, sebuah Topi Baseball, Dua T-Shirt. Lalu saya”ngacung” melontarkan pertanyaan dalam bahasa Inggris “Door” atau “pintu mana di rig pengeboran yang tidak ada anak kuncinya”.

Jawabnya adalah V-Door, sebuah landasan papan berbentuk V tempat keluar masuknya pipa bor dari bawah panggung ditaerik ke panggung bor. Moito seorang ahli mesin pengeboran berhasil menjawab pertanyaan ini setelah diberi “petunjuk”.

Membuat pertanyaan di PNG harus hati-hati, sebab banyak pekerja bor yang merasa tersinggung, merasa dipermalukan. Akibatnya sekalipun sudah tahu jawabnya mereka memilih diam. Tapi dengan sedikit pertanyaan jenaka, kekakuan bisa mencair.

*****

Sejatinya masih ada pertanyaan lagi yaitu kopor siapa yang tidak pernah dikunci….
Kopor atau dalam bahasa Inggris yang kita kenal sebagai “Suitcase”selalu berkonotasi tas bisa dalam bentuk lipat, atau kotak yang isinya bisa dokumen penting, buku raport murid, atau pakaian. Dengarkan lagu Omar Bakri yang menenteng suitcase lusuh terbuat dari kulitbuaya, senangnya sudah bukan alang kepalang.

Orang lapangan dulu (tahun1975-an) amat bangga kalau bisa menenteng Samsonite atau Echolac yang kalau kuncinya dibuka terdengar “ceklek” lalu daun tas terbuka, isinya passport, tiket pesawat, baterai ukuran pen kadang pisau lipat, karena waktu itu membawa pisau lipat masih diperbolehkan.

Tetapi kopor di PNG, jangan coba-coba dibuka tanpa ijin, sekalipun tidak ada kuncinya. Pertama anda harus mendapat ijin dari petugas yang berwewenang mengeluarkan “hot permit”, yang masa lakunya hanya 12 jam. Setelah ijin keluar anda masih harus presentasi bahaya apa yang akan dihadapi dan cara penanggulanganya bila ini terjadi.

Salah satu bahaya kopor rig adalah tangan bisa putus terjepit besi plaat setebal 10 mm.

Kedua, untuk membuka tutupnyapun anda harus menjadi anak-gym (bukan aakGym), yang lengannya terbiasa mampu mengangkat beban 20-25 kiloan.Orang rig sudah melewati masa angkat junjung barang berat. Jadi mendingan minta bantuan mereka. Pasalnya tutup suitcase ini terbuat dari baja lempengan dengan panjang 1-2 meter dan lebar 1 meter dan tinggi 40 cm.

Kopor inipun bukan cuma satu tetapi bisa mencapai puluhan jumlahnya sehingga kalau sudah berjajar-jajar menyerupai “catwalk” para pragawati ayu tapi kurus kita. Satu dibuka, yang lain harus ditengok pula sebab tidak ada gunanya membuka cuma satu kopor.

Kalaupun kopor ini berhasil dibuka, isinya cuma kabel listrik berarus tinggi, atau pipa hidaulik bertekanan tinggi yang sambung menyambung dari mesin generator ke mesin pengeboran.
Pada dasarnya kopor ini merupakan selubung pelindung pipa baja, kabel listrik agar tidak diinjak petugas, atau dilindak forklifts selain agar nyaman dipandang mata. Lantaran bentuknya, maka kita bisa berjalan di atas tutup kopor baja ini, paling kalau bobot anda melewati batas, tutup akan melengkung sebentar lalu saat anda tinggalkan ia akan kembali ke bentuk semula sambil mengeluarkan suara “jeleder”. Seperti mengingatkan akan bobot sudah mendekati batas bahaya.

Rig pengeboran di Papua Niugini umumnya jenis “heli lift”. Maksudnya mudah dipreteli satu persatu dalam potongan kecil agar mudah di gembol oleh pesawat Heli jenis Kolumbia atau Chinook dari satu puncak gunung ke puncak lainnya. Dengan demikian, satu pipa dengan pipa lainnya berjarak paling 2 meter, lalu ujung-ujungnya dilengkapi dengan sambungan yang disebut wing-nut. Sekalipun harus dipakai palu godam untuk membukanya namun demi keselamatan wingnut dan pipa-pipa, maka barang ini dimasukkan dalam kopor besi.

Para mudogger memanfaatkan jalur kopor besi ini dengan menaruh kabel-kabel instrumentasinya, kabel jaringan, kabel fibre-optik dalam ruang tersisa. Jadi aman dari injakan atau jepitan benda berat lainnya yang terkadang mampu memutuskan kabel-kabel halus dari fibre optik dan rawan kerusakan ini.

Ketika Kaktus tidak lagi semata wayang




Paling tidak tanaman hias kaktus yang dikenal dalam dunia komersial sudah mencapai 289 jenis. Deretan ini pasti akan panjang memanjang sampai entah keberapa.

Tanaman yang terbiasa ditempa terik matahari dan angin gurun yang berdebu, tanah yang amat miskin hara sehingga tiada tanaman lain bisa hidup disitu sehingga mahluk hidup kesepian ini kini sudah memilih hidup damai nyaman terlindung terik matahari dan dielus angin beraroma dengan Coco Channel, Aramis, Tabac yang dipakai oleh pengunjung mall di kota besar.

Tahun 1898, Karl Scuman menggolongkan kaktus menjadi 3 famili yaitu Pereskiae, Opuntieae dan Cereeae. Namun biarlah itu urusan para ahli botani. Kita hanya menikmati keanegaragaman hayati kaktus. Termasuk diantaranya jenis kaktus “Orang Tua”, lantaran duri-durinya yang diselimuti benang putih lembut seperti uban.