Ayam Kampung dan Toxo


Date: Sun Nov 16, 2003 9:38 am 12526

Ketika Oktober 2003 istri keguguran anak ketiga yang saya beri nama Diah Ratnasari (padahal belum tahu juntrungan jenis kelaminnya) saya membaca tagihan  rumah sakit yang menyatakan ada pemeriksaan “toxo” – sebuah parasit 3-6 mm yang berbentuk batang lengkung konon mampu menggugurkan janin. Memang hasilnya negatif. Begitu kata dokter Mughafir dari Harapan Kita.

Selama ini orang berfikiran bahwa toxoplasma cuma didapat pada orang yang bergumul dengan binatang peliharaan seperti anjing, kucing, kera. Ternyata toxo bisa didapat dari makanan sehingga tidak bisa dianggap remeh temeh lantaran ia mampu bersarang di otak, otot, mata, jantung dan usus sehingga proses de-toxo bisa memakan waktu lama. Penderita yang akut bisa berakibat mandul, misscarriage, bayi cacat, gangguan saraf.

Ternyata lagi, Indo mencatat prevalensi 20-60% yang artinya dari 220 juta penduduk ada 44-132 juta yang mengidap Toxoplasma gondii. Cina yang selalu terkenal dengan jorok, prevalensi penderita 5%, Thailand 10%.

Kenapa yang jelek-jelek selalu berada di urutan paling depan. Kalau dibahas nanti dibilang nasionalis tipis.

Bahkan toxo bisa didapat dimana-mana asal berasal dari ayam broiler ayam ras sekarang sudah dengan bangga bisa disamai ayam kampung (buras).Prestasi yang tidak perlu dibanggakan tentunya.

Pria yang menyebarkan isue bikin gelisah ini bukan sembarang omong.
Dia doktor dari Trisakti yang mengambil sampel darah ayam buras (galus galus domesticus), lalu mengambil organ yang paling banyak tempat bersarang toxo yaitu ampela dan uritan (indung telur). Hatsilnya separuh ayam buras yang keliaran di Jakarta terinfeksi toxo. Rupanya kebiasaan ayam makan rumput dan kotoran inilah yang menyebabkan parasit ikut bersarang.

Gilanya lagi kuman bisa bersarang di sperma sehingga mampu menular lewat hubungan sexual terutama kalau ada vagina atau apalah yang lecet.

Ternyata, mencegahnya mudah. Cuci tangan sebelum makan, masak makanan sampai matang “welldone” agar kista didalam daging bisa ikut terebus dan mati. Itu cara konvensional, sebab sejauh ini vaksinnya belum ada.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s