Moustafa Mega Market


Pepatah Cina (dulu) mengatakan “jangan buka warung kalau tidak bisa tersenyum” – maksudnya tentulah, menjadi pedagang atau pebisnis diperlukan sifat ramah tamah. Disamping ulet dan “hokie.” Tetapi pepatah ini dijungkir balikkan oleh pegawai mega market, salah satu tempat favorit saya di Singapore yang berlokasi di Jalan Syed Alwi atau kata orang “Serangoon Road.”

Harga-harga disini memang tergolong miring sehingga ada suara miring yang meragukan keasliannya. Kendati saya belum pernah terperosok mendapat mutu dibawah harapan. Ada komputer, perhiasan, sepatu, baju, kartu tilpun, penukaran uang sampai ke permen dijual disini. One Stop Shopping.

Masuk kedalam bangunan ini terasa sekali dominasi kulit gelap terutama keturunan Arab dan India yang menjadi pengunjung tetap komplek pertokoan ini. Dan “maaf” aroma tubuh yang khas yang saya bisa mendeteksinya beberapa meter mereka berdiri dibelakang saya. Ada juga beberapa pengunjung berkulit cerah atau sawomatang, namun jumlahnya tidak significant.

Ciri lainnya adalah wajah-wajah dingin yang melayani kita. Tiada senyum, atau rayuan seperti halnya di Glodok. Saya selalu berkata dalam hati “hei, layani pelangganmu dengan ramah, mereka ini yang menghidupi usahamu…

Bahkan saya mengira, Mustafa Center tidak akan bertahan lama karena “tidak ramahnya” Namun saya salah tebak…. Minggu lalu saya sempat mencari “card reader” untuk laptop saya. Pelayannya SPG berdarah India dilihat dari keningnya yang diberi pewarna merah tepat di titik mata-ketiganya.”

“What do you need” – Saya menunjuk benda tersebut. Tanpa banyak bicara benda tadi ia raih lalu ia geletakkan kartu tersebut didepan saya. Saya tahu tidak ada gunanya bertanya, lalu saya bilang “I take this” dan transaksi selesai.

Kutub Utara kalah dinginnya. Tadinya saya akan bilang penjualnya Sakit Gigi semua. Rupa-rupanya untuk berbelanja sesuatu disini, kita harus mempelajari barang yang akan dibeli secara detail di rumah.

Konon tingkat kecurian “stock loss” di Mustafa tergolong heibat. Bagaimana tidak, barang ditumpuk berjejal, pengunjungnya kalau masuk rata-rata tiga sampai empat orang saling bahu membahu bak bermain ular naga. Masih terkadang para stafnya ikutan mencuri barang disini.

Saat membayar, kasir kesulitan melepaskan plastik warna kuning gading tanda pengaman dari pencurian.

“Need a hand?,” tanya saya.

Bruk!, barang digeletakkan didepan saya tanpa tersenyum. Lalu pengaman berhasil saya lepaskan. Menurut India Mustafa kata “Thanks” tidak termasuk dalam kamus hidupnya.

Lalu dimana letak “keunggulan” Super Market yang Super Acuh-tak acuh ini yang kian hari kian moncer. Apakah lantaran sikap kurang perdulinya terhadap kastamer. Jujur saja, di Mustafa saya bisa mengumbar nafsu belanja mata tanpa salah tingkah didekati SPG/SPM dengan kata saktinya “May I help you…”

Suatu Minggu sore saya mendatangi tempat ini. Agak kaget juga sebab lautan manusia sungguh luar biasa. Mirip acara Sekaten van Yogyakarta. Mereka bercakap sambil berdiri, sebagian menilpun keluarga. Yang mengeduk untung adalah perusahaan Kartu Tilpun Voip ke India.

Kedubes India dalam hal ini perlu diacungi jempol. Mereka menyediakan angkutan antar jemput gratis para pekerja India untuk di drop di kawasan Serangon, masih diberi hiburan Layar Tancep.
Di panggung politik kita juga melihat yang sama. Kita lebih suka memilih pemimpin yang acuh tak acuh. Rupa-rupanya memang realita kehidupan.

Advertisements

Sate Madura dan Siti Madura


Catatan Perjalanan sehari ke Sampang. Agustus 2003

Sambutan tunggal yang diberikan oleh Bupati (terpilih dua kali sampai menimbulkan kontroversi) dari Sampang dalam resepsi pernikahan keponakan saya beberapa hari lalu di Sampang memang rada nakal.

Lantaran keponakan lelaki saya berasal dari “Purworedjo” maka dibuat bulan-bulanan dengan pertanyaan “Mengapa Sampang terkenal dengan gudang putri Ayu” Bupati mengambil contoh, sate Madura (Sate Ayam kalau di sana). Siapa nggak kenal dengan Sate Madura. Dari Sabang sampai Merauke, bahkan sampai ke manca negara.

Madura adalah tanah tumpah darah sate lizaad zidaan. Tidak ada sate yang kesohor seperti sate Madura. Sampai ada joke, kenapa di Madura tidak ada Bandara? sebab kalau tukang sate satu kabupaten kumpul semua maka asap tebal bakaran sate bisa-bisa dikira ada hutan terbakar. Sehingga pesawat urung mendarat.

Itu baru sate Madura, coba soto Maduranya. Kuahnya sangat terasa seperti gule sehingga kalau memasuki tenggorokan rasanya glek-glek, Nyamaaan. Dan khasiat rempah dalam masakan ini juga bisa meningkatkan aktivitas libido manusia. Pendeknya makan Sate ditemani Soto Madura, adalah pasangan afdhol….

Ada lagi yang ketinggalan, yaitu SITI-Madura (kebetulan nama pengantin putri Sitti Muatitah, sehingga Bupati bilang, kalau soto madura bihunnya puteh, maka Siti seko Madura bihunnya (tidak puteh). Dan ini juga produk Sampang yang kesohor kemana-mana. [hadirin grr disini].

Bupati yang mengaku perwira lulusan Akpol ini merupakan polisi di Indonesia yang jadi Bupati sebelum di sapu bersih oleh angkatan lain. Karena kebetulan Ipar saya yang orang tua pengantin ini juga lulusan AKPOL juga, maka tidak heran dari mulai akad nikah sampai resepsi pernikahan, bupati ini rajin mengikuti seluruh rangkaian mata acara.

Di akhir acara, di halaman luar saya lihat pak Bupati mengeluarkan segepok uang ribuan dan dibagikan kepada anak-anak anak-anak. Persis rirayanan (hari raya).
Jadi kalau sudah Makan Sate, ditemani Soto dan punya Sitti. Itu baru lengkap.

Tak Iyya.

Mimbar Seputro
Kesukaran cari Sate Madura apalagi Sitti
Yang banyak Soto Madura.

Inovasi Madura


Perkara kemampuan orang Madura menjalankan prinsip hidup “Ker-Ker-Rip” alias apa yang bisa di-eker-eker (kais) pasti memberikan penguripan sudah banyak dikenal orang. Yang paling legendaris adalah cerita mengenai pedagang besi bekas yang datang ke toko mobil untuk beli sedan Mercy dengan uang cash.

Kalau anda kebetulan mau merenovasi rumah atau gedung, panggil saja pedagang barang bekas rumah, maka dalam sekejap rumah tinggal puing hasil bongkaran (dan anda dapat uang material dari mereka), karena material hasil bongkaran bisa tertata dengan rapi mulai dari bata, keramik, genteng sampai kusen rumah, dan semua masih ada harganya.

Salah satu inovasi teknologi yang saya lihat di Sampang adalah saat pihak catering mempersiapkan hidangan. Pesta pernikahan di Sampang umumnya dimulai selepas shalat Magrib, yaitu jam 19:00 dan selesai satu setengah jam kemudian (20:30). Perkara batasan waktu ini memang tertib sekali. Begitu jam 19:00 maka rombongan pengantin tiba, mulailah berbondong-bondong undangan mengisi Aula Trunojoyo di jalan Rajawali, Sampang.

Tidak ada acara isi mengisi buku tamu (terlalu ribet, sudah mau kondangan kok disuruh isi formulir seperti coblosan), dan tamu langsung diberi kenang-kenangan (satu toples kue kering) atau satu kotak besar roti manis. Saya agak kaget menerima satu toples plastik plastik kue, tapi makin heran lagi ketika setiap undangan menerima yang sama termasuk jika mereka membawa anak kecil.

Didalam aula, para tamu dipisahkan antara undangan wanita di sisi kiri dan undangan pria di sisi kanan. Ini berlaku bagi semua pasangan, baik pengantin baru atau manula.

Soal ketepatan waktu ini pula yang berimbas kepada ketepatan hidangan.
Telat lima menit saja dari acara “hidangan” maka para undangan akan segera tolah-toleh kiri kanan sebelum akhirnya meninggalkan arena perjamuan. Dan ini aib besar bagi sang penyelenggara. Untuk itulah sebelum memasuki ruang resepsi, para tamu undangan dibekali sepotong roti besar dan segelas minuman kemasan. Tidak ada gelas beling terlihat dalam perjamuan. Semua minuman disajikan dalam kemasan plastik.

Guna menopang kelancaran jalannya “daharan”, maka panitia katering sudah menyiapkan piring yang berisi hidangan berupa nasi (malam itu nasi goreng), dengan lauk pauk ala kadarnya.
Ukuran porsi nasinya terasa kecil pagi perut kami. Nasi dan lauk-pauk ini disusun kedalam kerangka-besi yang terbuat dari besi slop 4 mm. Bentuknya persis kerangka untuk rantang, tetapi bagian rantang bisa memuat 5 piring nasi. Kalau seorang pramusaji membawa dua susunan kerangka besi, maka sekali jalan ia bawa 10 piring nasi untuk dibagikan secara berantai kepada para undangan.

Nampaknya pramusaji rumah makan Padang mendapatkan saingan cara membawa makanan. Cuma kalau yang ini lebih “bisa dilakukan oleh setiap orang”

Dengan ukuran nasi yang kurang banyak bagi tamu luar, maka tamu yang masih lapar bisa meminta tambah lagi kepada pramusaji, sekalipun hal ini jarang terjadi. Akibatnya dalam waktu sekejap semua piring licin disikat tandas. Lagi-lagi praktek “berhenti makan sebelum kenyang” diterapkan dengan konsekwen di kawasan ini.

Berbeda dengan pesta di kota lain, yang selalu berhiaskan sisa makan yang belum sempat dihabiskan oleh undangan, sebab mereka segera ingin mencoba hidangan lain. Akibatnya sisa makanan berceceran dimana-mana.

Hidangan penutup adalah agar-agar pudeng yang diberi pecahan es batu diatasnya. Tidak ada hidangan berupa “desert” atau “coca cola”.
Sambil menikmati hidangan maka band organ tunggal mulai
memperdengarkan musiknya didiringi dua biduanita yang membawakan nomor lagi Siti Nurhalizah “Cintaku di atas kertas” atau “Memory” nya Uthe Sahanaya serta tak lupa tentunya dangduut.

Pengantin berganti pakaian sampai 2 kali. Pertama adalah Dodot (yang pria telanjang dada), dan kedua setelan beskap. Pas jam 20:30, pengantin berjalan di pintu gerbang keluar dan para tamu undangan mulai menyalami pengantin sambil berpamitan.

Dan berakhirlah suatu perhelatan yang mungkin sudah disiapkan berbulan-bulan sebelumnya.

Perkututnya Sakau


Ketika masih kecil, saya mempunyai tetangga bernama mbah Karak, sekalipun nama aselinya adalah Seto. Pekerjaan mbah Seto adalah penjual krupuk yang terbuat dari beras ketan, di daerah kami di Klaten namanya “karak.”
Karena di desa kami ada beberapa nama dengan awalan Seto, maka khusus untuknya orang memanggil dengan sebutan baru embah Seto Karak, ini untuk membedakan dengan Seto Grameh yang menjadi pengepul ikan gurame.

Anehnya mereka bisa-biasa saja dengan gelar “profesional” tersebut.

Ada satu kebiasaan buruk mbah Seto adalah gemar menghisap candu (opium), konon pada masa mudanya di jaman penjajahan Belanda, ia sudah akrab dengan benda ini. Saat narkoba mulai di perangi ia terpaksa melakukannya secara diam-diam.

Ia pernah berjuang untuk melawan ketagihan, caranya setiap keinginan itu timbul ia berjalan kaki sejauh-jauhnya sampai merasa letih, lalu sesampainya di rumah, ia mandi sepuas-puasnya. Sayang usaha inipun sering gagal, apalagi waktu itu belum ada badan rehabilitasi yang membantu orang yang ingin keluar dari jeratan candu.

Rasa sakau (ketagihan akan candu) biasanya datang saat matahari sudah tenggelam. Diam-diam ia mengambil tube berisi candu, lalu di “plotot”nya candu kira-kira sebesar kotoran tikus, dan digulung pakai daun tembakau yang ia namakan “awar-awar.” Kemasan ini ditaruh diujung pipa panjang serupa cangklong yang dinamakan “bong” lalu dengan bantuan pelita minyak yang apinya kecil, upacara menghisap tembakau bercampur candupun dimulailah.

Sementara anak-anaknya hanya bisa menyaksikan dengan perasaan prihatin, tetapi takut untuk mencegahnya. Maklum isteri pak Karto sudah meninggal beberapa lama. Ia menjadi sangat kesepian.
Bila persediaan candu sudah habis, sementara pasokan belum dikirim oleh sang bandar, biasanya kerak sisa pembakaran candu dikorek-korek untuk di “daur-ulang” dan tahi candu ini dinamakan “jiteng” konon lebih keras reaksinya.

Selain “nyeret” atau menjadi pemadat, mbah Seto amat menyayangi burung perkututnya. Setiap pagi perkutut digantung di halaman, dan malam harinya digantung di para-para rumah. Sambil menikmati kepulan asap candu, mbah Karto ditemani secangkir besar teh kental dan manis, dan sesekali pandangan kosongnya melayang kearah kandang burung diatas kepalanya sambil menghembuskan asap candu keudara.

Ketika mbah Seto meninggal dunia, tidak sampai seminggu setelah kematiannya, perkutut-perkutut peliharaannya satu persatu ikut mati, semula penduduk desa menyangka bahwa mbak Seto Karak adalah orang sakti sampai-sampai ketika meninggal pun mampu membawa binatang kesayangannya ke alam akherat.

Selidik-punya selidik, rupanya lantaran lama hidup berdekatan dengan pemadat, sang perkutut terbiasa menghisap asap opium lama kelamaan sama kecanduannya dengan pemiliknya. Jadi ketika pemiliknya meninggal dunia, para perkutut seperti kehilangan “pasokan” uap candu yang biasa dihembuskan oleh tuannya. Akhirnya mereka mati gara-gara tidak tahan “sakau” berkepanjangan.

Ternyata Perkutut-pun bisa menjadi pecandu pasif.
Mimbar Saputro

Salak Rasa Nanas


Siapa yang tidak kenal tebalnya salak Besakih atau salak Bali, kelihatannya kecil tapi dagingnya sekel, rasanya manis-campur sedikit masam. Kurang pandai memilih, Terlanggar apes paling dapat salak yang sedikit masam. Umumnya pengalaman saya membeli Salak Besakih, jarang mis-nya. Beda dengan beli salak di Tempel (Yogya), mbok2 pedagang disana menggunakan struktur kerucut terbalik, maksudnya diatas kreneng salaknya guede-guede, sampai dibawah wassssalam.

Sudah pakai bahasa Jawa mlipit masih kena pelintir. Dasar apes. Padahal salak Pondoh ini tergolong “masir” strukturnya seperti ada butir pasir. Kalau Telor Asin, kualitas Brebes. Rasanya Masir.

Di Sumatera Utara ada salak Padang Sidempuan yang kemerahan seperti daging ayam Bangkok. Belum lagi salak Condet dan Manonjaya. Lalu ada salak Benteng dari Ciamis, salak Cineam dan Manonjaya dari Tasikmalaya

Cuma satu salak yang tidak enak yaitu dari Salak Padang, sebab yang ini namanya cukup panjang “Salak Anjiang Manggonggong Kafilah tatap Balalu…”

—ooo—

Tanaman liar yang tumbuh di hutan belantara dengan dahan berduri kalau didekati jauh dari indah, apalagi kalau didekapi. Bisa burat-baret dari tangan sampai dengkul. Belum lagi buahnya dilapisi kulit yang coklat kehitaman dan keras pisan. Jadi belum ada yang menjadikan Salak sebagai tanaman pot.

Dari Jawa Barat, muncul salak jenis baru yaitu Medanglayang, kecamatan Panumbangan, Kab Ciamis, di kaki gunung Syawal.

Penemunya adalah pak Sasra (56). Bibitnya sendiri asalnya dari Surabaya yang entah kenapa “betah banget” membiak di desa Medanglayang. Apalagi pak Sasra selalu memperhatikan sanitasi dan pemberian pupuk terbatas pada pupuk kandang dan kompos. Sehingganya unsur hara tanaman selalu stabil dan keseimbangan alam terjaga.

Sasra semula petani Cengkeh pada awal 1970-an, ia masih membayangkan bagaimana untuk membeli emas sekilo kursnya cukup menggenggam sekilo cengkeh. Tetapi memasuki 1980-an, cengkeh anjlok, diperkeruh oleh campur tangan Tata Niaga dan sebangsanya dia bangrut. Petani lain membakar tanaman cengkehnya.

Frustrasi, ia biarkan 100 pohon cengkeh sisanya merana. Lalu dia melakukan diversifikasi dengan membeli bibit Salak “Bali” yang didatangkan dari Surabaya, ternyata pada 1987 muncul varian salak baru yang lebih besar, lebih tebal dagingnya dan kecil kenthosnya. Pun beraroma Nanas. Inilah cikal bakal salak SALARAS
(Salak Rasa Nanas).

HEBOHNYA DIMANA?

Kalau anda bosan rasa salak yang itu-itu saja, inilah saatnya memanjakan lidah dengan salak berasa nanas.

Sifat unggul salak Medanglayang dari lain puun adalah pohonnya relatif besar mencapai 2 kali lipat dari tanaman salak biasa, buahnya juga berukuran besar berdaging tebal, sementara bijinya malah sebaliknya lebih kecil dari salak pada umumnya. Karena ukurannya yang besar, buah salak ini hanya 10-12 butir per kg-nya. Setiap tangkainya (manggaran -Sunda) mencapai rata-rata 4 kg buah salak matang.

Kelebihan lainnya, setiap manggar salak mencapai 30-40 butir, lebih padat berisi, dan tidak mudah lepas dari tangkainya. Rasa dan aromanya juga jauh berbeda dengan salak pada umumnya, manis dan sedikit muncul aroma nenas, sehingga petani di sana memberi nama salak “Salaras” kependekan dari, salak rasa nanas. Yang luar biasa salak ini berbuah sepanjang musim. Eh satu lagi, tanah rawan lonsgsor setelah ditanami salak jenis nanas ini bisa kembali stabil.

Seperti halnya Sukuh dari Pulau Seribu, maka salak ini belum bisa memenuhi kebutuhan pasar di luaran sana. Bahkan salak nanas ini dijual oleh Sasra dalam bentuk manisan, sementara bijinya diambil untuk bibit.

Sasra sudah menyiapkan 15000 bibit SALARAS, diharapkan dalam waktu tidak lama lagi Jakarta akan kebanjiran produksinya. Dan Ciamis akan menyalak menjadi Sentra Salak tapi tidak menggigit.

Ternyata bangkrut membawa nikmat juga.

Mimbar Seputro
16 Juni 2003

Menulis Buruk ala Laksana


Ada nasehat pakar menulis yang nyeleneh. Ia, Laksana bilang “Menulislah dengan buruk, alinea melompat-lompat, alur cerita kacau, bahasa amburadul. Istilahnya menulis “sampah”.

Ini teori menulis apaan…?

Ada sih “Menulis itu gampang,” tulisan sang legendaris Arswendo. Atau “Menulis nggak perlu bakat”. Tetapi mahzab menulis itu harus ngawur. baru ini saya dengar.

Lagian ini “kosok-bali” kebalikan dogma di sekolah bahwa setiap kalimat harus lengkap, satu alinea dengan alinea lain harus saling melengkapi? – Contohnya “Ali digigit oleh anjing itu” – tapi jangan lupa saat pelajaran mengarang diumumkan para murid akan berkata “Shhh, Ahhh, Sial…Mengarang lagi, reseh”.

Aku kan kepengen jadi Penerbang, atau cita-citaku ingin menjadi DokteLLL. Sementara anak yang suka orat-oret menjadi aneh di mata teman-temannya.

Lebih extrem lagi penulis Buku Sastra terbaik 2005 pilihan majalah Tempo malahan menganjurkan kalau perlu copot tombol yang namanya “backspace” – sebab tombol itu tidak perlu dipakai, malahan kalau perlu jangan pakai komputer. Cari pensil dan kertas. Lalu tulis serampangan…

Eh dia malahan mengutip ucapan diplomat Amerika, “Orang yang tidak pernah melakukan kesalahan, atau takut melakukan kesalahan, adalah orang yang tidak pernah menghaslkan apa-apa”

Setelah sempat membuat saya “yak ubeng” atas pikirannya, mas Gondrong ini mengambil contoh George Lucas ketika mencari tokoh dalam Star Wars. Ia kepikiran keras bentuk mahluk angkasa luar, apa harus meniru seperti filem lainnya yaitu berlendir, giginya besar-besar, bentuknya mirip reptil? – itu sih tidak kreatip.

Di sebuah tempat penimbunan sampah. Melihat belatung, lalat, gombal sampai akirnya dia melihat sesuatu, sebuah boneka bebek yang gosong. Dan ngocorlah ide bentuk fisik manusia angkasa luar.

****

Benang merah dari team pengajar “Menulis” dari Jakarta School yang 2 jeti sekali kursus, tadi adalah kalau kita menulis, pertama-tama buatlah karangan serampangan. Ngocor saja seperti pancuran air di sawah.

Jangan adu kekuatan antara kreasi dan edit. Misalnya baru nulis kata Pada Suatu Hari lalu buru-buru tekan backspace lantaran merasa Norak Abizz. Apaan tuh? mau dongeng Kancil Nyolong Timun? Hare Geneh?. Atau saat membuka kata “Embun menepi tatkala matahari mengirimkan sinarnya”, “Setip Maning Son” emang Bos pengarang Pujangga Baru.

Laksana bilang, “hantam saja” perkara Norak bin Kampung, atau Kuno ibn Kino, kacauwati binti nggak ngaruh” tetap tulis. Itu bagus, itu pertanda ada janin menulis.

Daripada…
Nah ini daripada..yang mana..Apabila

Kepingin nulis yang mutu, sempurna, bernilai, yang sip. Tapi masih berupa kertas putih…Ya boong. Nah kalau “draft” sudah terbentuk, baru ngurusi masalah editing….

Moral story: Daripada membangun Hacienda di lahan Beverly Hills, rencananya. Mending buat pondok tapi di RawaBogo, realisasinya
2/28/2006

Sumpit


Mengapa orang Tionghoa, Jepang, Korea, Taiwan rata-rata makan dengan sumpit?.
Lalu benarkah makan dengan sumpit merupakan latihan kebugaran otak ?
Mengapa asal nama sumpit yaitu Zhu Zhi diubah menjadi Kuai Zhi?
Bagaimana aturan main menggunakan Kuai Zhi?

Mengapa orang Tionghoa rata-rata pandai berniaga, tahan banting, tahan hidup berakit kehulu, dan ahli strategi. Bahkan dengan keberadaannya kita bisa menikmati “Mocin”, AC ChangHong, DVD Player Sieko, dan peralatgan elektronik yang harganya terjangkau. Mungkin ada baiknya mengetahui kebiasaan hidup mereka. Salah satunya adalah mengamati penggunaan alat bantu makan mereka yang terbuat dari bambu yaitu “sumpit.”

Ketika seseorang menggerakkan tangan untuk menggunakan sumpit sebetulnya ada lebih 30 persendian yang diaktipkan. Dan menurut para ahli pengobatan tiongkok, ketigapuluh persendian tersebut membawa effek melatih saraf otak sehingga pemiliknya menjadi pintar.

Memegang sumpit ada seninya “tiada bole terlalu kenceng, namun tiada bisa amat lemah” – yang ujung-ujungnya melatih otak untuk tetap terkontrol. Menjepit bakso dalam mangkok perlu perhitungan. Terlalu lama dijepit dia bakal bergulir kebawah kolong meja, terlalu cepat terkesan buru-buru.

Banyak latihan isoteris dan esoteris terlibat dalam menggunakan sumpit. Bahasa lainnya cara menghandel sumpet merupakan “informasi-otak” yang diterjemahkan melalui jari tangan.

Tapi tak kurang-kurangnya orang “alergi” lihat orang menyantap hidangan pakai sumpit. Seorang peneliti barat yang “alarmis” – itu lho senangnya bikin pernyataan dengan awal “waspadalah” atau “hati-hati” atau “awas berbahaya” –

Mereka mengatakan bahwa terlalu sering menggunakan sumpit berulang-ulang bisa berakibat “nyeri sendi” – tetapi ahli alarmis tidah menyimpulkan lebih lanjut, bagaimana profesional yang pekerjaannya pegang ballpoint atau ketuk keyboard terus menerus kok sehat-sehat saja.

Kapankah sumpit mulai dipergunakan ?

Sumpit dalam bahasa Mandarin Zhu Zhi, Xie Zhi yang sekarang berubah menjadi Kuan Zhi sudah dikenal sekitar 3000 tahun lalu. Perubahan nama ini bermula dari usulan kaum nelayan kuno yang tidak suka menyebut sumpit sebagai Zhu Zhi karena konotasinya adalah “stagnan”, mandek. Nah menurut ilmu “gebyah-uyah” apa lagi sih yang ditakuti oleh orang Tionghoa di dunia ini kecuali “ridzkinya” dimandekkan, alias hokkie dicabut.

Akhirnya Zhu Zhi diubah menjadi Kuai Zhi yang mengandung konotasi “Jalur Cepat”. Nggak heran, kalau kemarin masih jadi pedagang asong “nggoes-pit” tiba-tiba sudah buka toko. Tetapi ilmu othak-athik-gathuk juga mengartikan bahwa cari-makan itu sulit, sehingga saat makanpun harus sulit.

Ternyata ada etika penggunaan sumpit, yang justru yang salah malahan sering dilihat difilemnya Andi Lau, atau Jet lee

1. Jangan menunjuk dengan sumpit
2. Jangan menancapkan sumpit diatas mangkok nasi seperti hio untuk sembahyang arwah mereka
3. Kalau makan bersama, jangan mengaduk-aduk sayur dimeja karena ada bakso ikan yang anda sukai tertindih sayuran. Tunggu “wait and see” sampai tamu lain mengambil sayuran sampai bakso yang dicari nampak.

Bagi pemula yang ingin belajar menggunakan sumpit, ikutilah beberapa petunjuk dibawah ini;

1. Peganglah sepertiga dari bagian sumpit yang akan kita gunakan.
2. Letakan diantara ibu jari dan jari kelingking.
3. Ibu jari menekan bagian sumpit, agar pegangan kita pada sumpit menjadi stabil.
4. Kemudian ambil sumpit yang satunya lagi atau yang kedua
5. Letakan antara ibu jari dengan telunjuk.
6. Jari tengah memegang peranan untuk menggerakan sumpit hingga bisa bergerak lincah, ingat kedua sumpit dipegang dalam satu tangan.
7. Berlatihan menyumpit dengan mengambil kacang.