Kerauhan


Deasy (bukan nama sebenarnya) sudah buru-buru mengingatkan kawannya yang akan memotret bangkai bus PO AO Transport dengan nomor plat AB2602 CA yang terbakar setelah bertabrakan dengan trailer L8493 di tanjakan Paiton, dan memakan 54 korban anak SMK Yapemda I, Yogya pada Oktober 2003. Ia merasa bahwa sekitar bangkai bus masih banyak roh yang penasaran. Namun temannya seperti meledek dan terus memotret bangkai bus. Dan keanehan terjadi, Deasy mulai kesurupan diikuti oleh 4 teman-temannya. Mereka berteriak dan menangis sehingga supir bus (yang tidak kerauhan) lintang pukang membawa rombongan mahasiswa salah satu perguruan tinggi ini ke suatu mushala terdekat. Beruntung, ada santri yang mengerti cara menangani orang kesurupan. Sementara Deasy ditangani oleh teman-temannya dengan cara berdoa karena “haltenya berbeda.”Di Riau, pelajar SMU Handayani dan SMUN II Siak Kabupaten Kampar tercatat kesurupan sampai memanggil paranormal segala. Tidak lama kemudian diberitakan bahwa suru mereka juga kesurupan. Ada yang menuduh gara-gara beberapa hari sebelum kejadian para siswa main jelangkung sehingga memicu arwah sekitar untuk aktif dan mulai mempengaruhi pelajar (dan guru).

Tetapi di Bali, adalah negeri dimana Tiada Hari Tanpa Kesurupan. Rakyat disana menganggap kesurupan adalah peristiwa normal walaupun kadang berskala masuk koran lokal dan metro seperti pada 1980-an di SD Asah Munduk, Buleleng selama 8 bulan. Selidik-punya selidik warga pernah bernazar bahwa jika sekolah dibangun, pelinggih akan di dibangun pula.

Sekolah sudah dibangun tetapi janji tinggal janji akibatnya roh beraksi dan mereka baru sadar ada hutang belum terbayar. Setengah delapan pagi 8 Desember 2003, Wulandari di Pedungan, Bali sudah mulai berteriak-teriak. Teriakan bocah 11 tahun ini disahuti 15 murid lainnya dan mulailah terjadi kesurupan massal. Dari 324 siswa SD-3 Pendungan, 88 diantaranya kesurupan secara bergantian. Saat kerauhan, ada yang galak seperti barong, ada yang menerkam seperti macan, ada yang menari bak bidadari, raksasa, kera dsb. Wulandari sendiri mengaku ditarik tangan tak terlihat dan melihat wanita cantik berambut panjang. Usut punya usut ada Barong di banjar yang sudah tua yang harus direnovasi. Pemugaran direncanakan mulai Mei 2004, tetapi “taksu” yaitu energi yang membimbing calon penari agar di panggung bisa tampak lain dan seragam serta menari tanpa salah sudah di “booking” sebelumnya. Akibatnya ketika murid-murid sudah mulai menari, para taksu ikutan merasuki tubuh anak-anak. Istilah sekarang “curi start” –

Dalam pagelaran Tari Bedhaya Ketawang (tari dari Langit), diberitakan penari sering merasa ada yang mengarahkan gerakannya. Yang tajam matanya bisa melihat jumlah penari berubah ubah jumlahnya dari 9,10,11,12 Tahun lalu saya berkesempatan melihat pagelaran Bedhaya Ketawang dari dekat di Solo. Dari 9 menjadi 7 mungkin saat menghitung dari kejauhan dua penarinya sedang dibalik pilar istana. Dari ratusan penonton seorang selebriti sempat kesurupan ringan, dan sempat diatasi oleh pawangnya.

Keponakan saya Saogi Seputro pernah latihan “ekxkul” menari Kuda Lumping dengan menggunakan kuda anyaman bekas pemain jathilan pro yang sudah nganggur lantaran jarang ditanggap. Ia mulai curiga ketika kuda jantan bercat hitam ini mulai membangkang, ditarik kekiri ia berat kekanan. Lama-lama tangannya, tengkuknya, kakinya mulai terasa kraam. Untung ia cepat sadar dan teriak “tolong kudanya hidup” – sehingga guru tari disekolahannya segera menolong. Di rumah, ia seperti baru selesai macul sehektar. Ibunya (adik saya) memblonyo seluruh badannya sambil menilpun saya.

*****

Saya pernah “mencoba” rasanya kesurupan. Suatu kamar di rumah di Bekasi katanya rada wingit, dan menurut penghuni sebelumnya sering ada mahluk ini dan itu. Saya ya percaya nggak percaya, sepulang dari kantor selesai sembahyang lalu melakukan meditasi. Di luar suara TV masih keras namun lama kelamaan terasa makin pelan dan kening mulai nyeri. Saya ikuti saja perasaan ini sampai akhirnya sebagian kepala seperti diguyur air es, tangan tiba-tiba tertarik lekat ke dada dan beberapa detik sensasinya seperti orang “tindihan” yaitu sadar tetapi tidak berdaya. Tetapi ada tips dari beberapa ahli kalau menemui hal semacam ini kudu tersenyum dan jangan memperlihatkan ketakutan. Percaya saya susah juga senyum dalam keadaan ketibanan.

Tapi minimal alam bawah sadar diperintahkan untuk senyum. Setelah sadar, badan rasanya segar sekali seperti baru terbebas rasa sedih lalu menangis, dan plong.

Adalah Profesor Doktor dokter Luh Ketut Suryani Sp Kj, dosen Psikiatri Udayana mengatakan tidak semua orang bisa kesurupan. Minimal harus suci luar dalam, atau orang yang terpilih. Ia mengambil contoh Pemangku Pura, balian dan undagi masuk kategori ini. Namun dalam keadaan “Kurang Terkendali” alias akan muncul malapetaka, petunjuk dari atas akan masuk kepada siapa saja dan kapan saja.

“Saya tidak termasuk orang terpilih. Tetapi karena tekun bermeditasi, akhirnya saya bisa seperti orang terpilih (kesurupan)” Dengan melakoni syarat tertentu. Misalnya usia 15 tahun sudah harus mau bercerita “ilmu” yang didapat dari semedinya. Usia 20 tahun tidak boleh tinggal dengan orang tua.
Meditasi dari jam 21:00 sampai 03:00 dinihari. Dilarang bolos sekolah kecuali ada petunjuk dari atas. Namun dari semua syarat terberat adalah baru boleh kenal lelaki setelah usia 24. Maksudnya pacaran tentu saja. Yang repot, jam berapapun kalau tenaga spiritualnya dibutuhkan ia harus turun tangan dan tidak boleh terima bayaran. Nah kalau sudah lari ke tenaga medis, dia akan menarik biaya konsultasi sebagai dokter manusia, sesuai dengan keahliannya tentunya.

Ada satu pendapatnya yang menarik. Bung Karno menurut Profesor ayu ini kalau berpidato mungkin “kerauhan” – pasalnya ia bisa pidato memukau tanpa teks, kata-katanya mengalir lancar, tidak pernah terdengar memilih kata-kata dan suka berbicara 20-25 tahun kedepan. Buktinya 30 tahun ia pernah mengatakan Bali akan menjadi Hawaii dimana aspek wisata lebih kedepan dari pada nilai spiritualnya.

Dan ini ternyata terbukti…., katanya di majalah Intisari.
embees
Thursday, March 04, 2004

“Be careful of the words you say – keep them soft and sweet. You never know from day to day which one you’ll have to eat.”

Advertisements