Ex me ipsa renata sum


Setelah beberapa waktu diakali akhirnya tubuh tua (1600-an) itu mulai terangkat sekalipun masih menimbulkan kesulitan dengan bobotnya yang terbilang tambun. Maklum, dengan panjang 3,85 meter dan laras 25 cm benda perunggu ini berbobot 3,5 ton. Umumnya meriam jenis “bumbung” di buat dari besi dan miskin hiasan. Kecuali yang satu ini.

Tiba-tiba Jagur demikian nama meriam ini berulah. Roda forklift nampak terangkat!

Setelah disisir, ternyata ada selisih berat antara forklift dengan meriam. Pantes.

Sepuluh orang harus naik ke forklift bukan untuk dikorbankan melainkan untuk menambah berat agar terjadi “balance”.

Setelah berkutat selama 2 jam, “Kiyai Jagur” bisa dipindahkan ke tempatnya yang baru yaitu dalam komplek musium Fatahilah sekitar 50 meter dari tempat semula.

Suguhan Kembang tujuh rupa, kopi pait, kopi panas dan Astaga… Martini…. sudah tersedia ditempat barunya.

“Cuma tradisi,” kata seorang pekerja yang menolak disebut namanya. Tapi kok nggak nanggap Keroncong?

Meriam perunggu ini punya ciri unik karena selain bertuliskan “EX ME IPSA RENATA SUM” atau DARI DIRIKU SENDIRI AKU DILAHIRKAN LAGI, dipangkalnya terdapat pahatan tangan menggenggam, anehnya karena jempol nongol dijepit jari tengah dan telunjuk maka dari ajakan berjotos berubah menjadi kode “tandem yuuk mang” – sehingga kesohorlah Miriam ini sebagai benda keramat lambang kesuburan.

Dulu masih sering terlihat orang dengan “caos dahar” sesaji berdoa untuk sarana minta anak bagi yang belum beruntung mendapatkannya. Ada yang bilang kekeramatan si Jagur lantaran arwah seorang jagoan bernama betawi Kapitan Jonker alias Tete, tinggal didalam meriam ini.  Data ini saya dapatkan dari seorang ibu yang mengarang buku berdasarkan “kerawuhan” – Kapitan Jonker Tete. Soal nama ini – waktu saya tulis jagoan Betawi – ada yang protes – mana ada jagoan Betawi namanya bukat Pitung, Mat Sani. Padahal data ada roh dalam meriam cuma info dari seorang penulis yang konon kalau mengarang harus kesurupan roh Kapiten Tete… Jadi sahibul betul atau sohibul salah namanya juga sahibul hikayat.

Sekarang orang berkerumun disekitarnya menawarkan obeng, sabuk, sandal plastik. Maklum berada ditengah pasar pakaian dan kelontong. Tapi itu dulu. Sekarang tempatnya di dalam Museum Fatahillah nantinya, Si Jagur akan menempati area seluas 32 meter persegi. Pemindahan meriam seberat 3,5 ton ini memakan biaya sekitar Rp 50 juta. (*)

Ki Jagur dibawa dari Melaka ke Batavia pada 1641 menyusul kekalahan Portugis lawan Belanda (tapi skornya, juga menit ke berapa tidak dijelaskan .)

Nama si Jagurpun entah darimana asalnya. Bahkan berapa kali Meriam ini diajak perang, juga masih gelap…

 

Advertisements

2 thoughts on “Ex me ipsa renata sum

  1. Pakde, saya penasaran…Kan blog pakde saya tautkan di blog saya…eh kok tiba-tiba ada artikel yang diterbitkan 7 tahun yang lalu muncul di artikel terbarunya? Piye toh? Gimana sebenarnya kejadiannya?

    Judulnya menarik minat…isinya seperti biasa juga menarik hehehe…waktu pindah tahun itu 50 juta? Gede ya? Terus dari depan pindah ke dalam museum kira-kira berapa ya biayanya? Sekarang sudah nangkring di halaman dalam museum bareng Hermes yang didemo porno itu hehehe….

    Like

  2. Weleh ibu Retty, apa mungkin karena artikel ini kadang saya revisi ya.. Aku ada keluarga, nggak punya anak sampai sekarang. Lalu dia minta antar ke Jagur dan menyelipkan duit 50ribuan kemulut meriam., Tepatnya di sela-sela kayu(cat abu) abu. Dalam amplop tipis. Hehe…
    Tapi ya sampaiu sekarang belum hamil juga…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s