Ketika Naga harus mengakui keunggulan Ayam.


UDAHAN
Ketika Ayam mengasorkan Naga

Udahan adalah kata gaul bila seseorang letih bermain, atau hubungan asmara harus gagal ditengah jalan. Namun UDAHAN yang dinyatakan pemilik kopi Liong Bulan, menimbulkan teka teki seperti episode “Tiang Listrik menabrak Mobil.”

Akun Facebook Awang Satyana -Ahli Geologi yang produktip menulis apa saja, tinggal di Bogor, lebih menikmati ke kantor dengan kereta komuter sebab bisa menyaksikan kelakukan banyak orang yang dilihat selama perjalanannya ini menyatakan berduka cita atas kepergian kopi khas kota Bogor, LIONG BULAN..

“MULAI 8 NOVEMBER 2017, KOPI LIONG BULAN TUTUP/….. UDAHAN”

Saya langsung mencari penjual online. Kopi ini tergolong murah meriah, hanya dijual di kawasan Bogor termasuk Citayam. Asal bilang Kopi Liong – maka orang warung sudah tahu. Soal rasa sih terbilang Anyep. Jadi hanya mencoba sekali-kali dan pindah hati.

Perkenalan dengan Liong Bulan, sekitar 2002 ketika saya mencoba beralih profesi ke peternak Ikan. Mansur salah satu OB kami pura-puranya menyeduh kopi dengan cara mencelupkan elemen pemanas kedalam gelas. Jadi untuk mendidihkan segelas kopi butuh waktu sekitar semenit.

Terus terang saya tidak terkesan akan rasa kopi Bogor ini. Pasalnya anak-anak empang ikan kalau menyiapkan kopi lebih cenderung menyeduh bersendok sendok gulapasir yang diberi tetesan kopi buat menghasilkan warna hitam.

Kehadiran kopi “Ayam Merak” yang lebih agresif dan modern (saya ambil contoh yang ada binatangnya) – membuat Kopi Naga Bulan Sabit harus tunggang langgang mengakui keunggulan lawan.

Cara distribusi Ayam Merak, iklan yang gencar memang tidak dapat disangkal penyebab kemerosotan penjualan kopi Naga ini.

Belum lagi anak muda jaman NOW – sudah ahli meracik kopi, mengkombo Robusta dengan Arabika, menakar suhu menyeduh kopi yang terbaik.

Mempertentangkan apakah menyeduh kopi kudu diaduk atau dibiarkan butirannya “pating kemampul” – berenang dipermukaan air mendidih untuk dibiarkan settling ke dasar gelas secara gravitasi..

Era kopi dicampur kerak jagung, kerak nasi berlalu sudah….

Namun kabar angin mengatakan sang owner sudah tua dan sakit-sakitan sementara generasi penerusnya menepis perolehan estafet dari sang ayah. Lengkap sudah akhir dari kopi legendaris dari Bogor yang berkibar sejak 1945. Peminum kopi radikal harus gigit jari..

Semalaman saya mencari pemasok kopi yang sudah bagian sejarah. Namun ternyata kata-kata “stok banyak Gan, order saja” tadi pagi ketika saya tengok lapak mereka rata-rata sudah kosong.

Advertisements

hp


Menjelang  “riraya”  yang lalu, seorang sohabat yang tinggal dibawah satu atap langit kecamatan yaitu  Jatiasih – Kota Bekasi – mengirim pesan pre-order berupa WA “mohon maaf lahir bathin Pak“.

Saya menjawabnya, namun sejak itu ia tak bisa dihubungi. Dari hari ke minggu ke bulan tanda pesan dibaca tidak muncul sebagai dobel contreng.  Seperti “mak-lap” ditelan bumi – menghilang dari medsos. Kucoba dengan teknologi SMS.. hasilnya nihil.

Saya sedikit “parno” mereka-reka ia ikut sekte yang melarang muncul di Media Sosial. Atau seperti ajakan viral untuk mengunistall aplikasi sebuah usaha pesan Ticket online. Isu sentimen ala Pilkada masih dibudidayakan.  Ternyata.

Dugaanku meleset telak 12pas sebab setelah lima bulan ia hadir kembali.  Ia menyapa dengan nomor simcard yang asing. Bukan kepala enam dua sepertinya Indonesia melainkan Sembilan Tujuh Satu. Artinya dari Dubai – Emirat Arab.

Kami tidak boleh pakai HP yang ada kamera….” itu memang peraturan perusahaan Minyak Dubai tempat mereka bekerja.

Saya ingat sembilan tahun lalu di Rig Australia, semua HP harus dikarantina di rig dan baru diserahkan saat pekerja pulkam. Foto instalasi rig tidak boleh di medsoskan. Tapi waktu itu – dengan ketersediaan internet dan laptop, komunikasi dunia luar dengan gambar hidup tetap berjalan.

Hanya Laptop tak berkamera yang diijinkan …” Security di rig sangat ketat. Waduh.

Saya pengin tahu tilpun zonder mata, yang bisa WA itu HP merek apa?. Langsung saya bilang “tolong dipotoin kamera dan laptop tanpa kamera dong..”

Bapak ini gimana, kapan saya bilang kamera tidak boleh naik Rig!

Ternyata saya juga tergolong sekte yang baca posting cuma sepintas,  sekedar berita hanya dari judul, langsung merasa jadi ahli lantas zonder puyeng membaca seluruh berita dengan detail.  Tansah mencerna dengan seksama. Kadang belum dipikir sudah di BroadCast.

Kalau dulu ada istilah otak didengkul, sekarang  pindah ke Jempol.

Gambar ADMA – perusahaan minyak Dubai, bukan hasil cekrekan saya.. Cuma dari Wiki.. Kalau saya kosongkan, nanti yang muncul gambar Tokek.

 

 

Alkisah sebutir Alkesa


ALKESA diceritakan sebuah Sawo bertextur Cilembu…

Diberi buah yang seumur-umur kitaH belum pernah melihatnya. Donatur kali ini adalah ibu Doddy, tetapi saya samarkan sebagai Bu Ana dengan satu “N” sebab kalau dobel NN bukan samaran lagi.

Bingung cara melahap buah, mendaddak Asisten saya mbak Nani malah “songong” – itu sih makanan waktu Nani masih kecil…

Mangkanya saya tanya beliau akan nama yang bisa macem-macem seperti Alkesa, Sawo Mentega, Sawo Belanda, sampai ke buah Jigong lantaran warnanya kuning. Bijinya bisa buat gantungan kunci, wah Nani memang pinter pol. Cuma nasib yang surut.

Kata asisten saya lagi, texturnya mirip ubi CILEMBU (ya dia mengatakan kalimat itu). Saya tidak percaya. Dikupas seperti mengupas sawo kecik, dan rasanya memang sebelas dua belas dengan ubi rambat alias telo pendhem. Manisnya madu…

Pohon 11.11.17 dan Walkout


DurianMedanSaya diberi hadiah oleh emak-emak berupa bibit durian medan dan jambu merah. Rupa-rupanya ia baru pulang “Sebelas Nopemberan” – sebuah acara memperingati 90 tahun yayasan Kanisius. Dan tanaman hidup ini adalah pesan HIJAU untuk menanami lahan dengan tanaman berguna.
Emak ini juga bercerita tentang nama Ananda Sukarlan, seorang komposer yang diberi penghargaan dalam peringatan 90tahun tersebut. Dia bilang, setelah diberi penghargaan, maka Komposer tersebut secara “implisit” artinya tidak menyebut nama – mengkritisi panitia perayaan yang seharusnya mengundang alumni yang memiliki integritas yang selama ini dibanggakan oleh Sekolah tersebut.
Orang terhenyak, siapapun tahu siapa yang dimaksud. Bahkan di media sosial, disebutkan ia melakukan Walk Out ketika pejabat tersebut memberi kata sambutan. Mereka sebut Insiden Sebelas Nopember.
Penyanyi Senior Elvie Sukaesih juga melakukan walk out dengan meninggalkan meja penjurian acara dangdut saat di sebuah Tipi Swasta – mendatangkan Jarot. Namun walkoutnya penyanyi gaek bertahi lalat, hanya menjadi pembicaraan di keluarga saya.
Sekolah di kawasan Menteng ini ini kalau boleh saya banggakan, memiliki sistem yang mencetak manusia yang tidak sekadar menjadi mur atau baut di toko besi.
Ia mendidik manusia mejadi pahat yang mampu menggores perjalanan sejarah. Saya merekomendasikan bagi orang tua yang kepingin putranya dilatih berfikir tidak menelan begitu saja pendapat orang lain. Tidak tersilau gemilau LABEL.
Salah satu buktinya, sekalipun teman sendiri, sama agama, komposer tersebut mengkritik integritas alumninya.
Mudah-mudahan bibit durian Medan (bro) dan jambu biji merah ini bisa tumbuh, sehingga saya akan menamakannya sebagai Tanaman  11.11.17 – maunya gitu..
23518916_10212676014068293_8117588593057954470_n
#bibit mangga medan
#bibit jambu merah
#kolese kanisius
#insiden sebelas nopember
#ananda karlan
#anies
#elvie sukaesih
#jarot

Jambi – 1985


Sekitar 1985, saya ke Jambi sebab orang tua bertugas disana sebagai Polisi.
Ibu berbisik kepada saya,bahwa sebelum kami datang, Jambi mencekam, ada polisi ditembak oleh seseorang yang pura-pura membonceng. Sekarang kita mengatakan teroris.
“Lampu Asrama polisi dimatikan sebab kuatir akan ada serangan gelombang kedua.” kata ibu.
Teror ini segera diatasi, dan perburuan dimulai.
Sayangnya gelombang radio HT disadap oleh Orari sehingga berita perburuan cepat menyebar.
Pelaku dalam keadaan tertembak dibawa ke RS untuk diinterogasi. Namun kecuali keluhan sakit, lelaki ini tidak mau bicara.
Salah satu interogator lalu mengajak bicara dalam dialek lokal -dan dalam keadaan sekarat ia menjawab. Bahkan sempat mengatakan negara yang melatihnya. Namun ia segera sadar sedang diinterogasi, lalu terdiam. Waktu itu selalu Lybia yang ditunjuk batang hidungnya.
Uniknya, informasi ini tidak beliau dapatkan dari Suaminya (bapak saya), justru ibu yang bergerilya untuk mendapat informasi dari “anggota”. Dan jangan heran, ada micin didalamnya.
Pembakaran Polres Dharmasraya hanya mengingatkan saya bahwa kejadian ini puluhan tahun lalu pernah terjadi. Bahkan keluarga polisi terlibat didalamnya.
Perang proxy, justru dari dalam kita sendiri….

Oleh-olehnya IUD


Mantan mitra kerja saya, namanya pak Lanjar – tetapi sebaiknya saya samarkan sebagai Pak Uban, memiliki kenangan khusus atas putri semata wayang dari empat anaknya.

Setelah jebrat-jebrat, jebral jebrol ketiga anaknya lanang semua, maka nama Lanjar yang disamarkan Pak Uban tadi mulai was-was.. Dalam bahasa Jawa ojo-ojo “opo arep Pandowo Limo” opo kleb balbalan.

Maka pasutri ini rembug sehat dengan dokter, dengan suster yang kesimpulannya adalah KB tetapi yang mana? – kecuali “spiral.”

Setelah instalasi ” per keong” maka seperti pemimpin kita yang kena sindrom “yang lama pasti jelek” bagi pasangan Pak Uban, terhapus sudah aturan jalur genap, jalur ganjil, hari ibur atau hari kerja, Mau lewat trotoir atau bemper suka-suka. Bahkan jalan becek, atawa jalan gronjalan. Pak Uban jalan terus. Disponsori bu Uban tentunya.

Pokoke kata orang jawa tadi “tutug-no” alias puas-puasin selama per keong ada didalam sana.

IUD dilawan..

Apa mau kata, kecuali Hweladalah, “per keong” ringsek juga kalah digdaya dengan kejantanan pak Uban. Padahal jaman dulu belum kenal ramuan “HajarJahanam: yang iklannya barang sampai, buktikan, baru Bayar!

Singkat kata, mereka kaget bahwa 100% ampuh seperti kata bu Bidan puskesmas – kenapa memble juga. Jangan-jangan IUD KW ?.

Desi nama bontot ayu yang belum lama ini dinikahkan setelah tujuh tahun pacaran, lahir sambil membawa oleh-oleh IUD.. Bidan mengira ada Medusa ala Grogol.

Team medik keheranan. Akibatnya biaya persalinan direken gratis.