Public Library


Perpustakaan umum ini namanya SENGKANG Public Library. Terletak di lantai 4.

Ada buku yang dipinjam cucu sudah waktunya dikembalikan. Sekalipun bukan anggota saya bisa mengembalikannya. Saya tinggal cemplungkan seperti kalau memasukkan surat di kantor pos. Selebihnya mesin bertanggung jawab. Tidak ada manusia disana.

Tapi, deuh deuh, sudah di lantai 4, Kopang-kaping ke TKP kok ya masih ditempeli setan lupa. Alias celingukan.

Kebetulan ada sekuriti. Dia sedang asik memandang kerumunan orang di lantai dibawahnya. Pandangannya seperti orang Madura Pantai, melihat tumpukan Garam di pantai Madura, dan ada orang berteriak memberi pengumuman bahwa rasa Garam itu Asin.

Saya mendatanginya :”Uncle do you know where is the Public Library” – biasanya orang keturunan Melayu rada singgung kalau kita pakai bahasa Inggris.

Tapi mana saya tahu dia Melayu atau Ghurka.

“There is no Public Library” tukasnya. Nah lho.

Saya sekarang memandangnya seperti kalau ada orang Madura bertanya “Asinkah rasa Garam?”

Sontoloyonya dia malahan “Why are you looking for Public Library?”

Saya menyadari kesalahan… “Okay Uncle, where is the Library so I can read a book, magazine..”

Dan bergumamlah dia seperti “kalau dari tadi bilang Library saya sudah tahu. Ini pakai Public Library segala”

Padahal didindingnya tertulis Sengkang Public Library..

Jangan-jangan si babang sekuriti saat sahur tadi pagi lupa banyak minum. Jadi tidak fokus.

Advertisements

Kopi Tiwus


KOPI TIWUS
“Ketika Kesempurnaan itu memang Palsu adanya:..
 
Kebetulan saya berada di tempat anak. Yang paling besar. Memberikan dua cucu. Istilahnya, “mbak” mereka berlibur, kami mengisi kekosongannya. Sekaligus Annually mengagumi hasil kerja mbak ini sebagai Aisten Rumah Tangga. Seorang diri, memasak, bersih rumah, jemput anak, memberi makan, memandikan, cuci baju, gosok cucian yang kering. Sepertinya 24 jam tidak cukup.
 
Sambil merapihkan mainan cucu yang kadang membuat saya “gethem-gethem” lantaran bingung melakukan seleksi kalau sudah campur bawur. Kalau sudah mainan, biasanya buku anak-anak. Termasuk buku dewasa.
 
Diantara Rick Riordan, Ensiklo kecil, Sophoholic kok saya menemukan buku kecil Filosofi Kopi. Diberi label Karya terbaik 2006 pilihan majalah Tempo.
 
Yang sudah-sudah buku dengan embel-embel karya sastra biasanya malahan “keliwat alot” dikunyah. Sering melongo sendiri, lha kok malah ruwet setelah selesai membacanya.
 
Yang ini kenapa lain.
 
Tapi tak kurang Arswendo Atmowiloto yang nama pertamanya saya jadikan “hint password -sebagai pengarang yang paling disukai” – berani pasang taruhan – kalau selama ini Sastra selalu maju mundur karya Pramoedya, maka nama pengarang Dwi Lestari, bisa menjadi kandidat.
 
Gunawan Muhammad – bahkan kasih catatan DL adalah satu dari pengarang wanita yang tidak berangkat dari bedak, lulur, dan erotisme.
 
***
KOPI … k-o-p-i. Sudah ribuan kali aku mengeja sembari memandangi serbuk hitam ini. Memikirkan kira-kira sihir apa yang dimilikinya sehingga ada satu manusia tergila-gila Ben… B-e-n. Demikian Dee membuka cerita.
 
Untuk menjadi peramu profesional, B-e-n “ngangsu kawruh” menimba ilmu dari Barista Roma, Paris, Amsterdam, London, New York bahkan Moskow. Tidak perduli bahasa Inggrisnya Belepotan. Mengemis agar bisa masuk dapur saji, mengorek rahasia kelas kakap meramu cafe latte, cappucino, espresso, russian coffe, irish coffee, macciato – sampai akhirnya membuka kedai sendiri dan sukses.
Dengan cekatan ia membuat narasi misalnya Cappucino adalah kopi genit. Penampilannya harus cantik. Kalau diaduk sampai acakan orang tidak akan meminumnya.
 
Kopi tubruk wujudnya kasar, serampangan. Tetapi sekalipun namanya TUBRUK saat akan menikmatinya harus diciumi dahulu (aromanya), sebab kedahsyatannya adalah takaran suhu sampai keluar aroma tubruk. Setelah puas “ngambungi” – boleh ditubruk bahasa Jawa “diuleng-uleng” sampai puas.
 
Bahkan ada seorang kaya, menantang dibuatkan kopi terenak didunia, segelas akan dihargai 50 juta rupiah, kalau perlu.
Ben berhasil memenangkan tantangan 50 juta rupiah. Dalam bentuk Cek sebuah bank Internasional.
 
Namun egonya terkilik, ketika kedatangan seorang penampilan biasa, bawa koran tulisan kuliner kopi Sempurna warung Ben. Bahasa Indonesianya Jawa medok. Gaya clingak-clinguk – bisa dipastikan lelaki ini “first timer” di kedainya.
 
Kendati tidak dilukiskan oleh penulis, konotasi Jawa Medok sering lencang kanan dengan “gaya sinis tetapi mlipir halus”
 
Tentunya Ben menyuguhkan kopi yang pernah memenangkan taruhan 50juta. Herannya setelah meneguk si Bapak perhatiannya kembali tertuju ke koran-seperti meyakinkan apa yang ia baca tidak keliru.
 
Padahal pengunjung lain biasanya akan membelalakkan mata, lalu bilang wow..
 
Ditanya soal rasa, si Bapak cuma menjawab “Lumayan, beda sedikit dengan rasa kopi langgananannya..”
 
Gara-gara dibilang beda tipis. Ben menutup kedainya dan memulai petualangan berkendara mobil, ratusan kilometer dari Jakarta. Mencari juru kopi yang dikatakan enak tersebut. Ia harus belajar kepadanya.
Sayang mereka kemalaman sehingga memutuskan menginap di Klaten – Jawa Tengah.
 
Keesokan hari, mereka kembali dengan pencarian ke desa. Baru nampak jelas bahwa hampir perbukitan dipenuhi pohon kopi. Kopi rakyat yang begitu ditanam ya dibiarkan besar sendiri sonder pupuk.
 
Ilmu Kopi-nya yang dipelajari dari pakar kelas internasional, menolak bahwa kopi ditanam rakyat diperbukitan dengan ketinggian “tak memenuhi sayarat untuk tanaman ini tumbuh menghasilkan kopi yang mumpuni..”
 
Mereka menanyakan alamat kopi terkenal di kampung ini kepada seorang perempuan. “Oh Kopi Tiwus, namanya. Pak Seno nama pemiliknya..”
 
Sebagai terimakasih, Ben memberikan selembar uang Lima Ribu kepada si mbok yang diterima dengan melongo. “Maas, disini Lima Ribu dapat kopi satu Bakul..” – Perempuan itu menunjukkan bakul yang dibawanya, berisikan kopi sudah disangrai.
 
“Saya juga mau nyetor kopi kepada pak Seno..”
 
Disebuah warung Reyot, inilah warung pak Seno “Tiwus.”
 
Mereka memesan kopi. Ada gorengan selalu menemani. Mereka menyomot pisang goreng dan bertanya “Berapa harga kopi segelas..”
 
“Kalau gorengan 50 perak satu, kalau kopi ya cuma-cuma, terserah, lha wong disini buanyak. Kadang ada yang kasih 150 perak, 200 perak..ya berapa sajalah..”
 
Kopi kampung segera mereka minum.. Satu gelas berlalu, menjadi dua gelas.
 
Mengisi keheningan pak Seno berbicara lirih. Banyak sekali orang doyan kopi Tiwus (nama pemberian alm putrinya), katanya bikin tentrem, bikin seger, bikin kangen, bikin sabar. Bapak sendiri ndak ngerti kenapa. Wong bikinnya biasa saja. Barangkali biji kopinya yang ajaib..
 
B-e-n segera menghambur keluar warung. Ia yang sekolah dimana-mana belajar ilmu racikan njelimet ala kedai waralaba besar alias International, harus mengakui kenikmatan kopi yang rumus penyediaannya cuma, air sumur dijerang, kopi dimasukkan kedalam gelas belimbing lalu saat air mendidih, tuangkan kedalam gelas berisikan bubuk kopi rakyat.
 
Sampai di Jakarta ia memutuskan untuk menyerahkan cek kemenangan 50 juta rupiah kepada pak Seno di Desa Klaten tapi jauuh.. tadi. Ia merasa tak berhak.
 
RATUSAN KILOMETER Lagi (Klaten Jauuuh)..
Pak Seno berbincang kepada istrinya dalam bahasa Jawa tadi ada orang mengambil kopi Tiwus (Sebungkus), lalu memberikan kenangan selembar kertas..
 
Istrinya tidak tahu kertas apa ini. Sambil garuk kepala mereka menaruh “Kertas Kenangan di Bawah Pakaian dalam lemari mereka..”
 
Bulan Pasa pukul 12 teng baca FILOSOFI KOPI…Hadeuuhhh..
 
2 Juni 2018
#kopi
#filosofi kopi.
#gagal maning signout dari FB

Dari Perwira TNI menjadi Bintara Polri


si Pejuang
Dari Seorang Kapiten TNI menjadi Bintara Polisi..

Jujur semula saya tidak terlalu tertarik dengan buku ini. Dalam satu group WA famili yang diadmini sepupu yang doktor Psikolog melampirkan link youtube. Isinya ada sepupu lain penanggung jawab sebuah penerbitan nampak memberikan sambutan atas peluncuran buku berjudul Bhayangkara Pejuang melawan penjajah dan anti korupsi.

Isi sambutannya seperti mewakili perasaan saya. “Tiap hari kita dibombardir habis habisan bahwa Indonesia akan tinggal kenangan (2012)” – namun semua berbalik setelah membaca membaca naskah dari awal sampai akhir – ia menemukan konten buku yang tidak pernah terungkap. Mas Brata langsung setuju untuk mepublikasikannya. Ia seperti melihat Jendral Hoegeng edisi lain…

Sekalian sepupu berpesan, “pikirkanlah mulai sekarang, bapak-bapak dan ibu-ibu boleh jadi sudah memberikan suri teladan terbaik bagi bangsa dan negara. Namun tanpa teladan dalam bentuk tertulis, tuntunan seperti apa yang dilakukan Ursinus boleh jadi akan lenyap ketika kita dipanggil menghadap yang kuasa..” – Manusia hanya bisa menemui keabadian – hanya kalau ia menuliskan kisah hidupnya…”

Polisi pejuang ini aneh.

Saat revolusi – ia sudah berpangkat KAPTEN TNI. Namun pindah haluan menjadi Polisi dengan pangkat AJUN INSPEKTUR SATU – artinya dari Perwira menjadi Bintara. Artinya melorot empat tingkatan karir.

Padahal metamorfosanya menjadi polisi – sebab tugas intel untuk menyusup separatis Indonesia Timur yang hampir 100% pro Belanda. Jadi para tentara ini dilatih pura-pura jadi polisi agar bisa memonitoring perkembangan kelompok separatis yang memimpikan negeri Federal.

Namun mantan Kapolda SUMUT ini tergolong manusia berpikir keluar dari jamannya. Bayangkan saat mejabat DirLantas – mereka mengatakan “bagaimana kalau Surat Hak Milik Kendaraan bermotor kita hapus, lalu diterbitkan BPKB (Buku Pemilik Kendaraan Bermotor), karena tidak ada gunanya. Ini artinya menutup pintu Surat Hak Milik Kendaraan Bermotor yang dikeluarkan DLAJR. Jendarl Polisi Widodo Budidarmo dalam kesaksiannya mengatakan bahwa Ursinus – bisa disebut bapak BPKB.

Dan yang masih ingat saat pak Hoegeng ujug-ujug mengeluarkan Maklumat Kepolisian yang mengatakan Pengendara Sepeda Motor harus mnggunakan Helm, beliau orang yang menggodok aturannya.

BPKB pengungkap Amrozi..
Ketika ide BPKB di godog pada 1967, tidak pernah terpikir bahwa selain berfungsi sebagai Kartu Tumbuh Kembang, sebagai alat sah untuk pinjam uang di Bank, maka BPKB dipakai untuk menelusur jejak pengebom.

Ceritanya setelah beberapa hari mendalami dan menyelidiki kasus teror bom, polisi menemukan potongan chassis mobil yang diduga membawa bom berdaya ledak tinggi. Biasanya setiap rangka ada nomor identifikasi sehingga bisa dihubunkan kepada pemiliknya. Namun Angka yang biasa tercetak pada rangka sudah dihapus. Titik terang mulai terkuak ketika mereka menemukan stiker kir yang membawa Mitsubisi L-300 buatan 1981. Tebak siapa pemiliknya – Amrozi dan kawan-kawannya.

Dua tahun kemudian 9 Sep 2004 – didepan Kedutaan Kuningan, Daihatzu Zebra putih tahun 1990 segera dilacap pemiliknya melalui BPKB.

1 Agustus 2000 dikediaman Dubes Filipina Bom diledakkan menggunakan Suzuki Carry. Bom di JW Marriot 5 Agustus 2003 diangkut Toyota Kijang. Semua bisa diungkap melalui nomor registrasi dari BPKB. Seandainya pada 1967 pihak kepolisian masih nyaman dengan Surat Hak Milik Kendaraan Bermotor- besutan DLAJR, boleh jadi cerita teror bom akan menemui jalan buntu.

Presiden Pilippines 1992-2008 begitu terkesan pribadi polisi Indonesia yang satu- peluang menggendutkan dompet ia lewatkan. Markas Polantas di MT Haryono awalnya tercatat atas namanya sebelum ia serahkan semua ke kepolisian. Saking terkesima – seorang presiden negeri lain ini bersedia menuliskan kata kenangan di belakang buku ini..

Irjen_Pejuang

#Catatan Naskah buku ini selesai 2007, sudah diberikan ke penerbit tetapi mandelantaran dan. Sampai ia dipanggil sang pencipta pada 6 Januari 2012 buku belum terlaksana. Sebelum menghembuskan napas terakhir, Jendral, mantan Kapolda hanya memiliki rumah diujung gang sempit, Otista III Jakarta Timur.

Snowden (1)


 

Cerita buat Cucu
SNOWDEN tokoh di belakang WikiLeaks..(1)
Pembocor rahasia ke mata publik..
***

Entah CIA kecolongan, atau Psikolog pengujinya lagi error, atau karena atau memang perjalanan Sejarah, Edward Snowden yang semasa mahasiswa aktip menyarakan anti kemapanan, anti pemerintah, mendewakan “privacy” malahan di tarik menjadi CIA-men dan diberi jabatan strategis. Padahal CIA terkenal memiliki background screening ketat terhadap calon recruitmentnya.

Lahir 1983 sebagai Edward Snowden, sebagai manusia komputer sangat berbakat. Usia belia sudah menjadi programer.

Lalu CIA merekrutnya sebagai analist di Jenewa. Usianya baru 22 tahun. Kemudian memegang jabatan strategis di NSA (National Security Agency ) di Hawaii dan Jepang.

Dasar badung, bekerja di kantor pemerintahan tidak lantas menjadi jinak. Bahkan ia mulai menampakkan protes dengan menggunakan jaket bertopi -hood “bertuliskan NSA”. Dipakai di saat naik kereta Metro atau public bus.

Kegelisahannya memuncak melihat bagaimana US dan UK mengumpulkan semua data komunikasi Internet ” Its kind a Spooky Types”.

Ia menyebut sebagai “Radical Mass Surveillance” – memonitoring kehidupan dunia.

Kegeramannya atas sikap sewenang-wenang dimulai pada bulan Mei 2013. Ia keluar dari pekerjaannya sebagai NSA di Hawaii dan bersembunyi di Hongkong. Di sebuah hotel di pusat kota “The Mira”.

Dari hotel Mira Hongkong, Snowden menghubungi “Guardian” sebuah koran New York, Amerika yang dikenal reputasinya. Tentu menggunakan cara anonim.

Kepada kepala redaksi ia mengatakan bahwa Amerika sebetulnya negeri Radikal. Radikal kelas dewa mengawasi setiap gerak gerik manusia di dunia, ya sedunia. Kalau data yang saya kumpulkan ini diumumkan ke publik, maka inilah skandal terbesar di dunia yang dilakukan Amerika dan Inggris.

Wartawan masih ingat “kami merinding, bahkan susah bernapas ketika mendengar ada bocoran informasi yang dunia belum pernah menyadarinya..”

Snowden bukan tidak sadar.. Nyawa menjadi taruhannya. Sebuah kebenaran dibeberkan kepada penguasa, bukan tindakan mudah.

Agar tidak dilacak, mereka menciptakan kode rahasia yang harus diucapkan saat bertemu di Lobby Hotel. Mereka sepakat memesan Guinness Bir. Dan harus di lafalkan “Guinness” seakan-akan memesan, namun juga pemberitahuan bahwa Bir Guinness adalah nama panggilannya.

Itu belum cukup… Protokol yang disetujui adalah wartawan The Guardian harus menanyakan kepada hotel urutan “Bagaimana Makanan Disini” dan “Kapan Restoran tutup”. Kalau dua pertanyaan ini tidak disebutkan, maka itu berarti mereka sedang dibuntuti oleh pihak lain.

Untuk ciri, Snowden akan memegang “rubrik cube” ditangannya..

Pernah lihat bagaimana cara Snowden “memasukkan passoword komputernya” – serta Ritual yang ia lakukan di dalam kamar The Mira Hotel #1014…

#snowden
#whistblower
#wikileaks
#cia
#nca
#rubik cube
#the Mira hongkong
#Guardian USA
#surveillance

 

Jalan Sutra ala Milenial 2


 

Kesaktian si BAWANG MERAH

Transaksi online normal tidak lepas dari penggunaan Browser seperti IE, Chrome atau Firefox.

Kalau dalam dunia cybercrime aplikasi itu “undangan cari gara-gara” sebab begitu anda mulai loggin seketika itu juga posisi anda terlacak.

Seperti juga Pemuda Ulbrich. Ia menggunakan browser khusus “Bawang Merah..:”. Sejatinya militer Amerika menciptakan browser yang mampu mengelabuhi mesin pencari jejak seperti Amazone ataupun Google.

Mereka menamakan The Onion Router disingkat TOR. Seperti pisau bermata dua. Ulbricht segera memanfaatkannya untuk sisi kejahatan.

Sebetulnya Ulbricht berasal dari keluarga harmonis, patuh hukum. Disekolah ia tergolong encer matematika. Selalu juara bilamana ada lomba ilmu pasti. Di texas – ia lulus sebagai Insinyur Tenaga Matahari – dengan pujian. Dari Texas ia pindah ke San Fransisco – California. San Fransisco ada Golden Bridge, juga Golden Gate bagi dunia E-Commerce.

Apesnya – lantaran sulit cari kerja sesuai keahlian, ia menjadi pedagang buku bekas. Anda baca Novel. Habis baca jual kembali kesitus ini anda. Dapat harga murah. Jualan buku seken berakhir dengan gulung tikar. Maka obat bius adalah pelariannya. Hanya sebentar dari pemakai menjadi pengedar.

Mula mula ia menggunakan karakter pangeran baik hati sebuah novel.. Dread Prince Robert.

Lalu mulai berani muncul sebagai user ALTOID dan membuat situs ala BUKALAPAK diberi nama Silk Road. Logonya orang menunggang Onta.

Altoid lalu mulai kampanye membeli narkoba melalui transaksi bit coin. Ia malahan pamer “kemenangan perang Narkoba setelah dibantu bitcoin.”

Ketika pelanggannya membludag, iapun menghire beberapa asisten. Namun boleh jadi fiktip. Ulbricht lalu membuka divisi “Hitman”. Ia menyediakan pembunuh bayaran yang bisa disewa. Sebagai promosi ketika ada temannya yang idanggap penghianat, ia mengirim tukang pukul untuk menghabisi nyawanya. User name “penghianat” dihapus dari internet, lalu animasi foto penghianat dalamn keadaan sudah dimutilasi diunggah.

Makin lama, Bill mulai berani. Ia buka akun di WordPress. Tupai mulai jatuh. Ketika membuat kesalahan kecil inilah, FBI mengendus keberadaannya. IP address yang selama ini rapat ditutup, mulai terlacak.

Petualangannya harus berakhir pada Oktober 2013. Usai sudah perjuangan menjadikan manusia bebas menentukan nasib sendiri, termasuk menggunakan Heroin. Ia akan menghadapi tuntukan berapa kali penjara seumur hidup tanpa ampun.

Keluarga Bill Ulbricht – melakukan pembelaan dengan membuat situs menceritakan betapa manisnya anak mereka. Berkelahipun tak pernah. Sekaligus contoh bagi kita, bahwa anak terkadang mampu memerankan peran ganda. Anak Malaikat di keluarga, namun Bajingan Tengik dimasyarakat.

Ketika, situsnya “Silk Road” ditutup. Hanya dalam beberapa minggu FBI mencurigai ada beberapa situs lahir secara serempak.

#TOR web
#situs Silk Road
#Ross William Ulbricht
#Glen Park Branch Public Library
#Mobi Tobi Cafe
#Bit Coin28795413_10213591159706362_4501888563939377152_n

Jalan Sutra ala Milenial


28959100_10213582770096627_8478519042942959616_n

JALAN SUTERA ala DPR
 
Modal Laptop, penghasilan 80 juta dollar dalam 2 tahun (Narco)
 
Suasana siang diperpustakaan umum di San Fransisco itu cukup ramai pengunjung. Sebagian kursi sudah terisi oleh pembaca ataupun orang yang sekedar berselancar di internet.
 
Seorang pemuda usia 29 tahun dengan wajah tampan, imut layaknya generasi gadget nampaknya baru tiba. Orang mengenalnya sebagai pengunjung setia. Nampak olehnya kursi kosong dipojok, di ruang Sciene Fiction. “Sempurna”, bisiknya. Tak seorangpun bisa mengintip apa yang terjadi di layar laptop.
 
Tanpa menunggu lama, Layar komputer dibuka.
 
Setelah mengetikkan kata kunci untuk membuka layar ia memperbaiki posisi duduknya, sebab ia akan menghabiskan waktu berjam-jam melakukan transaksi online.
 
Kalau didekati pemuda ini melakukan transaksi dengan – uang kripto yang dikenal sebagai Bit Coins.
 
Mendadak keheningan ruangan dipecahkan teriakan seorang wanita yang sudah datang duduk disana beberapa waktu lalu. Seperti melihat musuh, perempuan ini mendekat sambil menunjukn menuju kearah si Tampan dan menceracau “I sick of you” – Si Pemuda terperangah, ia tidak merasa memiliki musuh. Hanya dalam hitungan detik laptop yang masih terbuka disambar teman wanita ini.
 
Ternyata mereka Satgas Cyber dari FBI dengan nama “Operasi MarcoPolo.”
 
Mereka berbulan-bulan memburu Penjahat Dumay selama ini. Pemuda itulah targetnya. Yang dikuatirkan FBI adalah jangan sampai saat ditangkap si pemuda keburu menutup laptopnya. Ada transaksi miliaran rupiah disana. Narkoba.
 
Sebab sekali laptop tertutup, saat itulah komputer akan masuk ke mode sleep, dan melakukan enkripsi data dalam hardisknya. Tak seorangpun mampu membuka data yang sudah dienkripsi oleh Apple, kecuali sang pemilik.
 
Pemuda ini buronan dunia mata selama dua tahun. Ia mampu lolos dengan memanfaatkan software yang dirancang menghilangkan jejak internet “Anonim”.
 
Rupanya hari itu, 5 Oktober 2013, saat naas bagi Ross William Ulbricht, pemilik nama samaran DPR (Dread Pirate Roberts ), a.k.a “altoid” Kini pemuda Texas yang cerdas dalam matematika, Insinyur Tenaga Surya harus mendekam dalam penjara.
 
Saat ditangkap ia sudah mengantongi kekayaan 144335 bit coins, setara dengan 80 juta dollar.
Ada 1,5 juta transaksi, dimana 95% adalah penjualan Heroin, Cocain, Meth dan penenang lainnya. Secara online.
 
Hanya dengan modal sebuah laptop, secangkir kopi di cafe atau perpustakaan yang biasanya menyediakan Full akses Internet gratis.
 
Sebuah cara berbisnis cerdas memanfaatkan dunia digital (internet, bit coins), sekalipun dari sisi kegelapannya.
 
#TOR web
#situs Silk Road
#Ross William Ulbricht
#Glen Park Branch Public Library
#Mobi Tobi Cafe
#Bit Coin

Delusi


MABUK BIR ORANG BICARA JUJUR. MABUK AJARAN ORANG JADI PEMBOHONG.

Sego Liwet dan “Jangan” Brongkos

Novel dibuka Hari Senin 27 November 2017, di sebuah perkantoran di Jakarta. Ada acara makan siang bersama, dengan hidangan Nasi Liwet dan Brongkos dari Yogyakarta. Brongkos adalah syuran terdiri dari kacang tolo, kulit melinjo, daging sapi, tahu dan yang paling khas kluwak (pucung) yang membuat kuah menjadi kehitaman. Biasanya mengambang cabai merah utuh. Tak ketinggalan Tempe Goreng dan Krupuk.

Komposisi menyentak. Umar Kayam dalam Mangan Ora Mangan Kumpul kerap membicarakan makanan legendaris yang hampir terlupakan ini.

Chefnya didatangkan khusus dari Yogyakarta. Tanya saja Butet, Djaduk pasti tahu masakan pak Min ini. Juga sambal pedes tapi tidak pedesnya.

Rupanya acara pelepasan seorang kerabat koran yang memasuki masa pensiun. Rumor di masa pensiun adalah Seperti Banyak Jalan Menuju Roma, para Pensiunan mengubahnya menjadi Banyak Kesusahan Menuju Tua. Misalnya saat di Jakarta, mereka berangan-angan pensiun kelak kembali ke Yogya, Bikin rumah bagus ditepi sawah, dipinggir kali. Kenyataan yang didapat desa sudah tidak seperti yang dibayangkan.

Manusia Pensiunan biasanya kembali ke masa lalu. Naliko Semono. Masa lalu dikunyah seperti permen, terutama bagian subyektivitas. Seakan semua masa lalu adalah indah dan teratur. Mantan diktator – dijadikan masa lalu dengan pemeo “Piye, enak jamanku tho?”. Orang dekatnya dijadikan iming-iming serba sebagai “Satria Piningit”

*** Kebenaran Makin Sulit dicari pada yang dimaknakan FAKTA. Ketika fakta sakit, Fiksilah obatnya…” [hal 113]

Tokoh dalam novel ini Santosa Santiana – disingkat eSeS. Jiwanya masih belum mau pensiun, apalagi merasa alumnus koran sangat terkenal berwibawa tanpa tanding – ia lalu diajak temannya sesama pensiunan yang kepingin bikin koran lagi.

Alasannya koran sekarang dangkal. Berita baru didengar sepotong sudah dilansir keudara. Mengoreksi berita kemudian sudah bukan aib. Cukup beri judul “Heboh” atau “Inilah Rahasia Mengapa” atau “Terbongkarnya penyebab bla.. bla” – yang kalau dibaca orang akan kecewa sebab mereka hanya menulis Judul, sepotong penjelasan dangkal, bahkan wartawan terkadang tidak berada di tempat kejadian.

Temannya sudah menasihatkan “Ini Jaman Fundamentalis, Orang Percaya Akan Apa Saja Kecuali Satu, Kebenaran…”

Lalu ada dialog saat mereka minum minuman keras Bir. Minuman keras di razia, dimusnahkan. Padahal orang mabuk minuman bicaranya jujur. Ketimbang orang mabuk Ajaran, umumnya mereka bicaranya Bohong, memfitnah dan sarat ujaran kebencian.

Proses kerja memndirikan Koran ini membuat mereka seperti menggunakan mesin waktu kembali ke masa lalu dimana hidup cukup dengan cinta seperti dikutip pada halaman 44, “Usaha yang berhasil adalah usaha yang dilakukan tanpa keberatan menanggung beban…”

Ada 16 Kata Mutiara yang orisinal dari 192 halaman buku ini.

Benang merahnya, jaman NOW – Media mengalir Bergas – namun manusianya tidak menjadi lebih cerdas. Kecepatan berita menjadi berhala. Soal salah benar nanti dipikir kemudian.

Novel “Koran Kami with Lucy n the Sky – ini seperti menceritakan sisi pribadi Penulis. Kendati ditulis disklaimer atau Nota “Berdasar Kisah Tidak Nyata dan Tidak Meyakinkan..”

#Krisis Zaman adalah mewarisi sikap bahwa MEMORI adalah musuh
#Koran Kami #Bre Redana
#Sabtu Malam 21:00 paket buku dikirimkan